Barru Raya Modern Sulsel

Masa Penjajahan Jepang di Barru

Masa pendudukan Jepang tidak dapat dilepaskan dengan perjalan bangsa Indonesia termasuk Barru. Untuk menduduki Sulawesi Selatan, Jepang bergerak dari Manado yang telah diduduki pada tanggal 11 Januari 1942, kemudian Menduduki Kendari pada tanggal 24 Januari 1942 dan pada akhirnya memasuki wilayah Sulawesi Selatan pada bulan berikutnya.

Setelah menguasai kota Sinjai pada tanggal 9 Februari 1942, maka pada keesokan harinya Jepang berhasil menduduki Makassar. Dengan jatuhnya Makassar membuat daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan dengan mudah diduduki oleh Jepang, termasuk Barru yang berhasil diduduki pada bulan itu juga.

Wilayah Barru diduduki oleh tentara Jepang pada bulan Februari 1942 pada saat tentara Jepang mengejar tentara Belanda yang mundur dari kota Makassar menuju pertahanan terakhir Pasukan Belanda di Enrekang. Di berbagai wilayah Barru terjadi sedikit pertempuran antara Jepang yang mengejar sisa-sisa pasukan Belanda.

Jepang masuk ke wilayah Barru dari arah selatan dari Kota Makassar. Jepang kemudian memasuki Kota Pekkae guna mencari serdadu Belanda. Salah satu lokasi basis pertahanan Belanda di Barru berada di Kampung Ralla.

Baca juga: Koleksi Foto Bersejarah di Barru Pada Masa Perang Kemerdekaan

Dari Pekkae, Jepang bergerak ke arah Timur menuju Ralla. Sementara itu pasukan Belanda yang mendapat perintah mundur ke Enrekang bergerak ke arah Barat menuju Pekkae. Dengan demikian kedua pasukan akhirnya bertemu di tengah jalan, yaitu di Kampung Botto Tengngae.

Pertempuran antara Jepang dan Belanda terjadi di atas sebuah jembatan, pertempuran berlangsung pada sore hari, berlanjut sampai malam hari hingga menjelang pagi. Dalam pertempuran tersebut, seorang komandan atau perwira Tentara Jepang gugur, namun pertempuran tetap dimenagkan oleh Jepang.

Banyak jenazah tentara Belanda yang dihanyutkan ke sungai oleh Jepang, sebagian lagi melarikan diri menuju Enrekang. Sementara Pasukan Belanda yang tertangkap atau menyerah dibawa ke Parepare untuk selanjutnya dikirim ke Makassar. Hanya dalam waktu singkat saja, seluruh wilayah di Barru telah dikuasai Jepang.

Setelah Barru jatuh ke tangan Jepang, maka semua urusan pemerintahan diambil alih oleh Jepang. Pembagian wilayah pada masa pendudukan Jepang pada dasarnya sama dengan pembagian wilayah pada masa penjajahan Belanda, yang membedakannya hanya dari segi bahasa, yaitu bahasa Jepang untuk menyebutkan beberapa pembagian wilayah.

Baca juga: Mengapa Jepang Menyerang Pearl Harbor?

Pada masa pendudukan Jepang, Barru disebut Bunkeen Karibun Kariken yang membawahi beberapa distrik. Adapun susunan pemerintahan Jepang selama memerintah di seluruh Indonesia di antaranya, Syu (karesidenan) dipimpin oleh seorang syuco, Syi (kotapraja) dipimpin oleh seorang syico, Ken (kabupaten) dipimpin oleh seorang kenco, Gun (kawedanan atau distrik) dipimpin oleh seorang gunco, Son (kecamatan) dipimpin oleh seorang sonco, dan Ku (kelurahan atau desa) dipimpin oleh seorang kuco.

Selama masa pemerintahan Jepang, ada banyak aturan atau kebijakan yang dibebankan kepada rakyat Barru. Langkah pertama yang dilakukan Jepang yaitu melakukan gerakan doktrinasi untuk mempengaruhi seluruh masyarakat, dan sasarannya yaitu Jepang memerintahkan seluru para guru untuk berangkat ke Makassar untuk menerima atau mendapatkan arahan.

Jepang juga membangun beberapa sarana militernya di Barru, temasuk membangun sebuah galangan kapal di Kampung Matene, Padaelo, serta mendirikan satu markas di Pacciro, Takkalasi.

Ilustrasi Tentara Jepang dan peta Barru
Ilustrasi Tentara Jepang dan peta Barru. Foto: Sampul buku Transkripsi Oral History Masa Pemerintahan Jepang di Daerah Barru Sulawesi Selatan.

Untuk menarik simpati masyarakat, Jepang juga merekrut beberapa pemuda ikut dalam pelatihan militer, selanjutnya para pemuda yang dilatih ini menjadi kesatuan yang dikenal dengan nama Tentara Heiho, kesatuan ini bertugas untuk membantu prajurit Jepang di medan perang.

Baca juga: Sistem Pendidikan di Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

Ada beberapa tokoh pejuang asal Barru yang merupakan bekas Tentara Heiho, memanfaatkan keterampilan perangnya untuk digunakan nantinya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya yaitu Andi Abdul Muis Tenridolong, bangsawan Tanete yang namanya kini diabadikan menjadi nama lapangan di Pekkae, ia merupakan ketua Komite Nasional Indonesia Tanete (KNI Tanete) dan anggota dari Laskar Gerakan Pemuda Tanete (GPT).

Di bidang perekonomian, Jepang memerintahkan kepada masyarakat untuk menanam tanaman pangan berupa padi dan jagung, tanaman pangan ini nantinya akan dikelola oleh perusahaan bentukan Jepang NKJC/NKK. Selain padi dan jagung, juga tanaman kapas yang akan dikelola oleh perusahaan yang diberi nama Kanebo. Sementara untuk bisnis dikelola oleh SPHK.

Masyarakat dipekerja paksakan untuk menebang dan mengumpulkan gelondongan kayu untuk kepentingan Jepang. Karena terlalu disibukkan untuk memenuhi permintaan Jepang menyebabkan masyarakat tidak sempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Baca juga: Perjuangan Abdul Karim di Barru Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Barang-barang pokok mengalami kelangkaan, seperti bahan pangan berupa padi dan makanan pokok lainnya harus diserahkan semuanya kepada Jepang, untuk mengatasi kekurangan bahan makanan, masyarakat terpaksa mengkonsumsi batang pisang sebagai pengganti nasi.

Kelangkaan juga terjadi pada bahan sandang, kekurangan bahan kain membuat masyarakat harus menggunakan pakaian yang terbuat dari karung goni.

Untungnya masa penjajahan Jepang tidak berlangsung lama. Pada tahun 1945, Jepang mengalami kekalahan saat berperang melawan sekutu, terutama Amerika Serikat. Negara Jepang dijatuhi bom atom yang membuatnya menyerah tanpa syarat.

Kekalahan Jepang ini dimanfaatka oleh Bangsa Indonesia untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Dengan demikian, berakhirlah masa penjajahan Jepang, pasukan Jepang harus meninggalkan wilayah jajahannya dan kembali ke negerinya.

Beberapa reaksi muncul di berbagai wilayah, termasuk di Barru. Para pemuda bergerak menguasai seluruh fasilitas milik Jepang yang ditinggalkan, diantaranya galangan kapal Jepang di Kampung Matene. Serta menyerang markas Jepang di Pacciro, Takkalasi.

Sumber:
– Abdul Rahman, Dkk. 2015. Transkripsi Oral History Masa Pemerintahan Jepang di Daerah Barru Sulawesi Selatan. Makassar: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
– Muhammad Amir. 2011. Andi Abdul Muis Tenridolong Patriot Yang Konsekuen Hingga Tetes Darah Penghabisan. Makassar: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Sulawesi Selatan.

Tuliskan Komentar