Mondial

Bagaimana Proses Transfusi Darah Pertama Kali Dilakukan?

Richard Lower
Richard Lower melakukan transfusi darah. © historianet.nl

Transfusi darah atau donor darah adalah prosedur untuk menyalurkan darah yang terkumpul dalam kantung darah kepada orang yang membutuhkan darah, melalui pembuluh darah vena. Darah yang disalurkan berasal dari pendonor.

Transfusi darah merupakan bagian dari penanganan dokter untuk menyelamatkan nyawa pasien yang kekurangan darah atau sedang menderita penyakit tertentu.

Transfusi darah secara langsung ke manusia pertama kali dilakukan oleh Jean-Baptiste Denys, seorang dokter pribadi Raja Prancis Louis XIV.

Tonggak peristiwa sejarah penting ini terjadi pada 15 Juni 1667, ketika Denys memberikan 250 mililiter darah dari seekor domba kepada seorang anak laki-laki yang kekurangan darah.

Dia melakukan transfusi dengan cara mengambil darah dari seekor domba dan memasukkannya melalui tabung ke dalam pembuluh darah anak laki-laki itu tepat di bagian legannya.

Baca juga: Mengenal Masker Wabah Berbentuk Burung, APD Pada Abad Pertengahan

Pengadilan melarang transfusi darah.

Anak laki-laki yang sakit itu sembuh, dan tidak lama kemudian dokter kembali berhasil melakukan transfusi darah yang kedua kalinya kepada orang lain.

Tapi setelah percobaan transfusi yang pertama dan kedua berhasil, transfusi darah yang ketiga dan keempat mengalami kegagalan dan berujung pada kematian, hingga transfusi darah sempat dilarang.

Pasien ketiga meninggal segera setelah prosedur transfusi dilakukan, sedangkan pasien keempat bahkan meninggal selama proses transfusi berlangsung.

Keluarga dari pasien terakhir keberatan dan membawa Denys ke pengadilan. Hasilnya, Dokter Denys dibebaskan, tetapi pengobatannya dilarang.

Hakim melarang transfusi darah setelah dua kali mengalami kegagalan, sehingga tidak pernah lagi ada terobosan ilmiah mengenai transfusi darah sampai bertahun-tahun kemudian.

Baca juga: Black Death: Wabah Pes yang Hampir Memusnahkan Eropa

Pada tahun-tahun berikutnya, Gereja Katolik, Parlemen Prancis dan Inggris, serta perkumpulan sains British Royal Society juga melarang transfusi darah, dan selama 150 tahun berikutnya tidak pernah lagi dilakukan transfusi darah.

Richard Lower
Richard Lower sedang melakukan transfusi darah kepada pasiennya. Foto: historianet.nl

Pada November 1667, beberapa bulan setelah percobaan Denys, dokter Inggris Richard Lower melakukan tes serupa.

Pasiennya adalah seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan penyakit demam yang parah. Sebelum transfusi, dia sudah menjalani sekitar 20 kali penyedotan darah dengan bantuan lintah yang menyebabkannya kekurangan darah.

Domba dipandang sebagai hewan yang pendiam. Karena itu, transfusi pertama dilakukan dengan menggunakan darah domba. Menurut dugaan para dokter pada masa itu, pasien yang didonor menggunakan darah domba akan mengadopsi sifat tenang dari domba.

Darah ditransfer melalui tabung yang terbuat dari perak. Ujung-ujungnya dihubungkan dengan pegas berlubang, yang nantinya akan disuntikkan pada pembuluh darah di bagian lengan.

Baca juga: 8 Wabah Pandemi yang Pernah Melanda Dunia Sepanjang Sejarah

Pengetahuan baru tentang perbedaan golongan darah.

Belakangan diketahui bahwa pasien yang ditangani Dokter Denys meninggal setelah transfusi darah karena darah binatang tidak cocok untuk manusia.

Bahkan sesama manusia pun belum tentu cocok darahnya untuk didonorkan karena beberapa manusia memiliki golongan darah yang berbeda.

Darah binatang yang didonorkan ke manusia dapat melumpuhkan sistem kekebalan. Dua pasien pertama Denys mungkin selamat hanya karena darah binatang yang didonorkan kepada mereka tidak terlalu banyak.

Baru pada tahun 1901 Karl Landsteiner menemukan bahwa transfusi darah hanya dapat dilakukan dengan golongan darah yang sesuai.

Artikel asli: https://historianet.nl/wetenschap/geneeskunde/hoe-verliep-de-eerste-bloedtransfusie

Tuliskan Komentar