Mondial Nasional

Sejarah Pembatalan Penyelenggaraan Ibadah Haji

Pemandangan kota Makkah pada abad ke 11 Masehi.
Pemandangan kota Makkah pada abad ke 11 Masehi. Foto: republika.co.id

Wabah virus corona yang merebak membuat hampir seluruh negara di dunia membatasi perjalanan masuk dan keluar untuk mencegah penularannya. Termasuk tanah suci Mekah di Arab Saudi. Pemerintah setempat sudah membatasi masuknya jemaah sejak Februari 2020 lalu. Pembatasan ini belum diketahui akan berlaku hingga kapan.

Bahkan, Kamis (05/03/2020) kemarin, kerajaan Arab Saudi juga menutup berkala masjidil haram setelah salat Isya hingga jelang salat Subuh setiap harinya. Sementara itu, bagi penduduk Arab Saudi dan warga yang menetap disana, dilarang mendatangi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram untuk sementara.

Dalam rekam sejarah, ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan dalam sejarah peradaban manusia. Pembatalan haji beberapa kali dilakukan karena berbagai macam faktor. Misalnya oleh wabah penyakit, konflik, aktivitas bandit dan perampok, dan alasan lainnya. Berikut beberapa tahun dimana ibadah haji pernah ditutup dikarenakan beberapa hal.

Serangan Suku Qarmatian Tahun 930 M

Salah satu peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah adalah pemimpin suku Qurmatian, Abu Tahir al-Jannabi, yang berbasis di Arab timur (saat ini wilayah Bahrain), menyerang Mekkah. Mereka beralasan, ibadah haji merupakan ritual kaum pagan.

Baca juga: Qarun Tenggelam ke Dalam Tanah Bersama Hartanya Karena Likuifaksi

Sedikitnya 30.000 orang terbunuh dalam penyerangan ini. Penyerbuan Qarmatian merupakan sebuah insiden besar, itu adalah kejadian penting dalam sejarah Islam. Abu Tahir al-Jannabi, yang memimpin penyerbuan, tak hanya menyerang Mekkah dan penundaan ibadah, tapi dia juga tak menghormati simbol suci Islam.

Hajar Aswad, yang diletakkan di sudut Ka’bah, dijarah dan potongan-potongannya dicuri. Kelompok itu juga menodai Sumur Zamzam yang suci, yang dekat dengan Ka’bah, melemparkan mayat peziarah yang terbunuh ke dalamnya. Setelah serangan itu, ibadah haji dibatalkan. Hajar Aswad akhirnya dikembalikan ke Makkah sekitar 20 tahun kemudian.

Perselisihan Bani Abad dan Bani Abid tahun 983 serta tahun 1257 penduduk Hijaz dilarang berhaji

Selama 8 tahun, muslimin dari Irak dilarang berhaji, dan tahun 1257 penduduk Hijaz juga diberlakukan larangan yang sama.

Wabah Tha’un 1814

Wabah Korona yang terjadi saat ini bukan merupakan wabah pertama yang membuat pelaksanaan ibadah haji tertunda. Di wilayah Hijaz tahun 1814 sekitar 8.000 korban meninggal dunia akibat wabah Tha’un yang membuat ka’bah ditutup sementara.

Baca juga: Black Death: Wabah Pes yang Hampir Memusnahkan Eropa

Wabah epidemi tahun 1837 dan kolera tahun 1846

Sepanjang abad ke-19, wabah kolera telah menyebabkan penangguhan ibadah haji pada tahun 1837 dan 1846. Antara tahun 1830 dan 1930, setidaknya ada 27 kali wabah kolera melanda di antara jemaah haji di Makkah.

Epidemi kembali terjadi pada 1858.

Epidemi kembali terjadi pada 1858 yang menyebabkan penduduk Hijaz mengungsi ke Mesir. Di tahun 1864, 1.000 peziarah meninggal perhari karena wabah yang sangat berbahaya. Saat itu karantina diberlakukan dengan bantuan dokter yang dikirim dari Mesir.

Kematian karena kolera tahun 1892

Jumlah kematian akibat kolera meningkat pada tahun 1892, dan makin buruk tiap harinya. Mayat bertumpuk. Tahun 1895 juga terjadi wabah typus yakni pandemi yang mirip demam tifoid atau disentri.

Perebutan Masjidil Haram 1979

Sebuah kelompok bersenjata Saudi yang terdiri dari 400 hingga 500 orang merebut Masjidil Haram antara November dan Desember 1979, memaksa penutupan masjid setidaknya selama dua pekan.

Baca juga: Mengenal Masker Wabah Berbentuk Burung, APD Pada Abad Pertengahan

Pengambil alihan tersebut dipimpin seorang mantan tentara Saudi, Juhaiman bin Muhammad ibn Sayf al-Otaybi, yang mengkritik keluarga kerajaan yang berkuasa, dan menyerukan agar kembali ke ajaran Islam murni, sesuai yang diyakininya. Pengepungan akhirnya berakhir setelah pasukan Saudi merebut kembali masjid, dibantu oleh unit polisi taktis Prancis.

Wabah Meningitis tahun 1987

Tahun 1987, wabah meningitis yang menyerang Arab Saudi membuat kegiatan berhaji ditutup. Saat itu, sebanyak 10.000 jemaah haji terinfeksi.

Wabah Ebola 2014

Ketika wabah Ebola memuncak pada awal tahun 2010-an, negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah-langkah untuk menangguhkan penerbitan visa untuk beberapa negara Afrika barat yang merupakan pusat virus. Pada 2014, Arab Saudi untuk sementara berhenti mengeluarkan visa umrah dan haji untuk warga Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Pembatalan penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia

Tidak hanya otoritas Saudi yang pernah memutuskan untuk tidak menyelenggarakan ibadah haji. Ternyata pembatalan penyelenggaraan ibadah haji di Nusantara juga pernah beberapa kali diberlakukan sejak masa kolonial Belanda dan masa kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Inilah Lima Strategi Politik Adu Domba Belanda di Nusantara yang Sukses Memecah Belah

Di masa kolonial Belanda, Pemerintah Hindia Belanda tidak mengirimkan jemaah haji karena pecah Perang Dunia pertama (1914-1918).

Melalui Javasche Courant, 17 Mei 1915, pemerintah kolonial mengumumkan bahwa selama perang tidak dilaksanakan perjalanan ke Mekah dengan pertimbangan: biaya hidup di Hijaz terlalu mahal, perubahan kurs uang Turki terhadap gulden Hindia Belanda, dan maskapai pelayaran Belanda menetapkan tidak akan mengoperasikan kapal hajinya.

Selain tidak mengirim jemaah haji, pemerintah kolonial juga memulangkan jemaah haji yang biasa disebut koloni Jawah (Ashhab al-Jawiyyin) dari Jeddah. Karena maskapai pelayaran Belanda tidak beroperasi selama perang. Jemaah haji yang berhasil dipulangkan sekira 5.000 orang.

Pemerintah Indonesia juga pernah membuat keputusan serupa pada masa setelah kemerdekaan. Sebab, saat itu terjadi perang yang masih berkecamuk antara Indonesia dengan Belanda selama perang Kemerdekaan.

Menteri Agama pada masa itu yang dijabat oleh Fathurrahman Kafrawi (masa jabatan 2 Oktober 1946-26 Juli 1947) pada tahun 1947 mengeluarkan Maklumat Kemenag No. 4/1947 tentang Penghentian Ibadah Haji di Masa Perang.

Pada saat itu terjadi perang antara Indonesia dengan Belanda, di mana Belanda melancarakan operasi militernya yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda Pertama, berlangsung dari tanggal 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947.

Tuliskan Komentar