Kuno Nasional

Inilah Petirtaan Kuno yang Ada di Indonesia

Petirtaan Candi Belahan
Petirtaan Candi Belahan. © cybertokoh.com

Petirtaan adalah permandian suci yang dahulu digunakan menyucikan tubuh dari tokoh-tokoh kalangan istana. Pertirtaan mengakar pada kata tirta yang dalam bahasa Jawa juga Indonesia bermakna air.

Kata pertirtaan ini sering dihubungkan dengan candi di Indonesia karena memang salah satu fungsi candi nusantara adalah sebagai tempat permandian selain sebagai tempat ibadah dan pemakaman.

Meski begitu, terdapat juga beberapa situs budaya yang memang secara khusus difungsikan sebagai pertirtaan. Berikut ini merupakan beberapa petirtaan kuno di Indonesia yang cukup terkenal.

Jolotundo

Jolotundo merupakan candi atau petirtaan yang terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lokasi candi dapat ditempuh kurang lebih 55 kilometer dari kota Surabaya.

Petirtaan atau kolam pemandian Jolotundo dibangun pada tahun 997 Masehi. Menurut sumber sejarah setempat, candi Ini adalah bukti cinta Raja Udayana dari Kerajaan Bali untuk istrinya Putri Guna Dharma asal Jawa dalam rangka menyambut kelahiran anaknya yang bernama Airlangga.

Baca juga: Litografi Reruntuhan Candi Masa Hindu-Buddha

Litografi Petirtaan Jolotundo oleh Johannes Muller
Litografi Petirtaan Jolotundo oleh Johannes Muller. Foto: attoriolong.com

Candi Petirtaan Jolotundo juga mempunyai sangkut paut dengan petilasan kerajaan Kahuripan dan dijadikan sebagai tempat pemandian Raja dan Ratu Kahuripan kala itu.

Bangunan Kolam Candi Petirtaan Jolotundo memiliki ukuran panjang 16,85 meter, lebar 13,5 meter, dan kedalaman sekitar 5 meter. Sedangkan bahan dasar dari pembuatan Candi Petirtaan Jolotundo adalah batu Andesit.

Mata air Jolotundo terus mengalir walaupun musim kemarau. Kandungan mineral air di Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia.

Candi Belahan

Petirtaan Belahan, dikenal juga sebagai Candi Belahan atau Sumber Tetek, adalah sebuah pemandian bersejarah yang dibangun pada abad ke-11, pada masa pemerintahan raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Petirtaan Belahan terletak di sisi timur Gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pemandian ini berbentuk kolam persegi empat yang mendapat pasokan air dari sebuah sungai kecil.

Baca juga: 8 Kitab Kuno di Nusantara yang Sering Dijadikan Sumber Penulisan Sejarah

Pada tahun 991 M, Raja Bali, Udayana, membuat sebuah candi di sebelah barat Gunung Pananggungan, Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi itu adalah Petirtaan Jolotundo, dibangun untuk memperingati hari kelahiran anaknya, Airlangga.

Candi Belahan
Candi Belahan. Foto: cybertokoh.com

Pada tahun 1009 M, Airlangga yang sudah dewasa membangun candi Petirtaan Belahan yang berdekatan dengan petirtaan Jolotundo. Konon, kolam ini adalah tempat mandi para istri dan selir Prabu Airlangga.

Dinding sebelah barat belakang petirtaan mengepras lereng gunung Penanggungan dengan bentuk relung-relung yang dahulunya berisi arca perwujudan Airlangga sebagai dewa Wishnu. Dengan ukuran panjang dan lebar 6,14 m.

Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga difungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian, dibangunlah dua patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri.

Kedua arca atau patung itu melambangkan kesuburan. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek.

Baca juga: Inilah 11 Nama Lain Dari Pulau Sumatera

Candi Tikus

Candi Tikus adalah sebuah peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu, terletak di Kompleks situs Trowulan, tepatnya di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus. Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun?

Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad ke-13 sampai ke-14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.

Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan atau tempat pemandian keluarga raja.

Tetapi sebagian pakar yang lain berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan Candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Baca juga: Panggung Sejarah Penguasa Kerajaan Singasari

Sumberbeji

Situs Sumberbeji adalah sebuah situs petirtaan di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Situs tersebut diduga dibangun pada zaman kerajaan Airlangga sebelum Majapahit.

Sebagian pakar berpendapat bahwa situs Sumberbeji merupakan petirtaan atau tempat pemandian keluarga raja, tetapi sebagian pakar yang lain berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk setempat di zaman dulu.

Ekskavasi atau penggalian Petirtaan Sumberbeji
Ekskavasi atau penggalian Petirtaan Sumberbeji. Foto: radarjombang.jawapos.com

Petirtaan Dewi Sri

Petirtaan Dewi Sri atau Candi Simbatan adalah berkas pemandian kuno seluas 18 meter persegi yang tetletak di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan. Diperkirakan situs ini merupakan jejak peninggalan Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram kuno.

Berdasarkan inskripsi yang terdapat pada atap miniatur rumah (lumbung), tertulis angka tahun 905 Saka (983 Masehi) dan 917 Saka (995 Masehi). Sementara itu, pahatan sangkha atau siput bersayap pada atap miniatur lumbung merupakan tanda resmi pemerintahan raja Mpu Sindok pada abad ke-10.

Situs Petirtaaan Dewi Sri memiliki bilik utama, di dalam bilik utama tersebut terdapat arca seorang perempuan yang oleh warga sekitar dianggap sebagai Dewi Sri. Dalam mitologi masyarakat Hindu-Jawa, Dewi Sri dianggap sebagai tokoh perempuan yang memberikan sumber kehidupan.

Petirtaan Dewi Sri saat airnya dikuras
Petirtaan Dewi Sri saat airnya dikuras. Foto: hellomagetan.com
Arca Dewi Sri
Arca Dewi Sri di dalam bilik utama.

Baca juga: Dari Mana Asal-Usul Istilah Ibu Pertiwi?

Tirta Empul

Tirta Empul merupakan pemandian yang berada dalam kawasan Pura Tirta Empul di Pulau Bali, tepatnya di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Tirta Empul dibangun pada tahun 962 M selama wangsa Warmadewa oleh raja Sri Candrabhayasingha Warmadewa (dari abad ke-10 hingga ke-14). Tirta Empul terkenal dengan air sucinya di mana orang Hindu Bali mencari penyucian. Mata air Tirta Empul berasal dari sungai Pakerisan.

Tirta Empul
Tirta Empul. Foto: ihategreenjello.com

Candi Umbul

Candi Umbul adalah situs purbakala berupa pemandian air panas yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini dibangun sejak zaman Wangsa Syailendra yang beragama Hindhu dari kerajaan Mataram Kuno.

Asal usul penamaan Candi Umbul berasal dari kata umbul dalam bahasa Jawa, karena sumber air yang keluar dari dasar kolam selalu menyembul serupa gelembung-gelembung, atau yang di masyarakat Jawa disebut mumbul atau naik.

Candi Umbul
Candi Umbul. Foto: tribunnews.com

Tuk Bima Lukar

Tuk Bima Lukar adalah mata air yang merupakan hulu Kali Serayu. Situs ini berada di sebelah kanan jalan masuk ke kawasan Dataran Tinggi Dieng dari arah Wonosobo. Sebagain besar dari bangunan ini sudah berganti dengan tembok semen.

Jejak kekunoan tampak dari dua jaladwara atau pancuran air yang masih berfungsi. Masyarakat menggunakan petirtaan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun juga mengkeramatkan.

Tuk Bima Lukar
Tuk Bima Lukar. Foto: idiengtour.blogspot.com

Selain petirtaan yang diuraikan di atas, sebenarnya masih banyak lagi petirtaan kuno lainnya di Indonesia, seperti Petirtaan Gua Gajah di Gianyar Bali dan Petirtaan Watugede di Malang.

Tuliskan Komentar