Folklor Nasional

Dari Mana Asal-Usul Istilah Ibu Pertiwi?

Ibu Pertiwi

Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenag

….

Semua pasti sudah tidak asing lagi dengan penggalan lirik lagu di atas? Iya, itu adalah penggalan lirik dari lagu “Ibu Pertiwi.” Lagu ini menceritakan tentang keadaan tanah air Indonesia yang memiliki banyak kekayaan alam, tetapi tidak luput dari bencana dan musibah.

Ibu Pertiwi dianggap sebagai sebuah perwujudan tanah air Indonesia, atau dikenal dengan istilah personifikasi nasional untuk negara Indonesia. Personifikasi nasional sendiri merupakan perwujudan bentuk manusia dari sebuah negara, contohnya negara Amerika Serikat disebut Negeri Paman Sam, sedangkan Indonesia dikenal sebagai Bumi Ibu Pertiwi.

Baca juga: Kisah Batara Guru Dalam Mitologi Beberapa Suku di Indonesia

Selain lagu tadi, Ibu Pertiwi juga populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan bertema patriotik, seperti lagu Indonesia Pusaka dan Indonesia Raya. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, lirik dalam bait “Jadi pandu ibuku,” kata “ibu” di sini merujuk kepada Ibu Pertiwi.

Lalu, dari mana istilah Ibu Pertiwi ini digunakan untuk menyebut tanah air Indonesia? Sejak kapan istilah ini digunakan? Mari kita simak.

Sejak masa pra-aksara, berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi, mereka mengibaratkan alam sebagai seorang ibu yang memberikan kehidupan.

Baca juga: Mitos Masyarakat Zaman Dahulu Ketika Gerhana Matahari Terjadi

Tidak mengherangkan apabila pada masa itu berkembang sebuah kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme, di mana masyarakat memuja alam dan melakukan pemujaan terhadap tempat-tempat tertentu. Rasa terima kasih terhadap alam sering dilakukan masyarakat melalui berbagai macam upacara adat, persembahan sesajian, ataupun sedekah bumi.

Setelah masuknya pengaruh Hindu sejak awal millenial pertama di Nusantara, kepercayaan terhadap roh-roh alam itu berkembang menjadi kepercayaan terhadap dewa-dewi. Masyarakat Nusantara telah mulai mengenal nama Dewi Pertiwi.

Citra atau patung perwujudan Ibu Pertiwi yang berada di Monas. Foto: id.wikipedia.org

Dewi Pertiwi adalah salah satu dewi dalam agama Hindu yang juga disebut sebagai Ibu Bumi. Dewi Pertiwi juga disebut dalam beberapa nama, diantaranya Dhra, Dharti, dan Dhrthri, yang artinya kurang lebih “yang memegang semuanya.”

Baca juga: Kisah Meong Palo Karellae di Barru

Dewi Pertiwi merupakan istri dari Dewa Dyaus Pita yang juga disebut Bapak Angkasa. Dalam Kitab Regweda, Bumi dan Langit sering kali disapa sebagai pasangan, mungkin hal ini menekankan gagasan akan dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain.

Pertiwi dalam tradisi masyarakat Bugis.

Selain sebagai nama dewi dalam Agama Hindu, Pertiwi juga dikenal dalam tradisi kuno masyarakat Bugis. Dalam konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat Bugis, alam semesta terdiri atas tiga dunia.

Dalam Kitab I La Galigo, dijelaskan ketiga dunia itu terdiri dari Boting Langi atau dunia atas (kayangan), Ale’ Lino atau dunia tengah yang didiami manusia, dan Peretiwi atau dunia bawah. Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia.

Tuliskan Komentar