Kuno Sulsel

Nekara Terbesar Ditemukan di Selayar

Nekara di Selayar
Nekara di Selayar

Nekara adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya dengan selaput suara berupa logam atau perunggu.

Nekara diberi bermacam-macam hiasan dengan motif binatang, seperti katak, gajah, kuda, rusa, harimau, burung, dan merak. Kebanyakan nekara dibuat pada masa atau zaman Perunggu yang berlangsung sekitar tahun 500-100 SM.

Tempat penemuan nekara banyak tersebar di Asia Tenggara, terutama di Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Roti, Selayar, Gorom, Kepulauan Kei, dan daratan Indocina. Nekara yang kecil diberi nama Moko atau Mako (banyak ditemukan di Pulau Alor).

Nekara mempunyai tiga fungsi pada masanya, yakni fungsi keagamaan, dosial-budaya, dan politik. Fungsi keagamaan yaitu sebagai alat komunikasi, upacara, dan simbol. Sementara fungsi sosial budaya yaitu sebagai simbol status sosial, perangkat upacara dan karya seni yang mempunyai daya magis religius. Sedangkan fungsi politik yaitu sebagai tanda bahaya atau isyarat perang.

Baca juga: Posi Tana: Kiblat Kepercayaan Kuno Masyarakat Sulawesi Selatan

Penemuan

Nekara terbesar di Asia Tenggara dan bahkan diduga tertua di dunia yang pernah ditemukan adalah nekara yang ditemukan di Pulau Selayar. Menurut informasi dari tetua adat dan penduduk Kelurahan Bontobangun, Selayar (tempat ditemukannya nekara terbesar), nekara tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk dari Kampung Rea-Rea yang bernama Sabuna pada tahun 1686.

Pada saat itu Sabuna sedang mengerjakan sawah Raja Putabangun di Papaniohea, tiba-tiba cangkul Sabuna membentur benda keras yang ternyata adalah hiasan katak yang merupakan bagian dari nekara yang terkubur. Sejak berakhirnya Dinasti Putabangun pada tahun 1760, nekara tersebut dipindahkan ke Bontobangun dan menjadi kalompoang atau arajang (benda pusaka kerajaan) Kerajaan Bontobangun.

Nekara di Selayar
Nekara di Selayar. Foto: id.foursquare.com

Deskripsi

Nekara Selayar ini terbuat dari perunggu yang bentuknya menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi. Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya motif flora dan fauna yang terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah, dan ikan 18 ekor.

Baca juga: 3 Religi dan Kepercayaan Tradisional Masyarakat Sulawesi Selatan

Sementara itu, di permukaan nekara bagian atas terdapat 4 arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagi pegangan. Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar, seperti silinder, badan, dan bahu berbentuk cembung.

Ragam hias pada nekara Selayar
Ragam hias pada nekara Selayar. Foto: southcelebes.wordpress.com

Legenda

Legenda mengenai keberadaan Nekara di Pulau Selayar berasal dari dua sumber. Sumber yang pertama yaitu cerita mitos Sawerigading yang berkembang pada periode Galigo, suatu periode kekuasaan manusia dewa yang mengatur tata tertib dunia dengan pola kepemimpinan religius kharismatis.

Sawerigading ditempatkan sebagai tokoh utama dalam perwujudan tata tertib dan penataan pertama masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Periode Galigo diperkirakan berlangsung sekitar abad ke-7 sampai abad ke-10 tetapi Christian Pelras menempatkannya pada sekitar abad ke-12.

Baca juga: Animisme dan Dinamisme: Bentuk Kepercayaan Asli Masyarakat Nusantara

Sumber yang kedua adalah naskah hukum pelayaran dan perdagangan Ammana Gappa (abad ke-17) dimana Pulau Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga. Letaknya sangat strategis bagi pelayaran yang menuju ketimur maupun ke barat. Dengan demikian Pulau Selayar menjadi bandar transit bagi lalu lintas pelayaran kala itu.

Di dalam naskah itu juga disebutkan tentang daftar sewa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Aceh, Kedah, Kamboja sewanya 7 rial dari tiap seratus orang dan apabila naik dari tempat tersebut menuju Selayar, Malaka, Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.

Dari sumber tersebut memberikan keterangan tentang peranan Pulau Selayar dengan daerah-daerah di Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini memperkuat dugaan bahwa nekara mungkin didatangkan dari daratan Indocina (Asia Tenggara daratan) pada waktu pengaruh kebudayaan Tiongkok berkembang di kawasan itu.

Arca kodok pada nekara
Arca kodok pada nekara. Foto: nurislah.com

Baca juga: I La Galigo: Menyelami Karya Sastra Terbesar dari Sulawesi

Menurut cerita yang terkait dengan nekara di Pulau Selayar, dikatakan bahwa ketika Sawerigading bersama isterinya We Cuddai dan ketiga putranya La Galigo, Tenri Dio, dan Tenri Balobo kembali dari Tiongkok, dalam perjalanannya menuju ke Luwuk, mereka singgah di Pulau Selayar dan langsung menuju ke suatu tempat yang disebut Putabangun dengan membawa sebuah nekara perunggu yang besar.

Dari cerita itu dapat disimpulkan bahwa Gong Nekara dibawa dari Tiongkok oleh Sawerigading. Yang dimaksud dengan Tiongkok di sini, mungkin adalah Indo China. Selain itu, masyarakat setempat juga menganggap bahwa hanya ada dua nekara di dunia, yaitu sebuah di Pulau Selayar dan sebuah lagi berada di Tiongkok.

Nekara yang ada di Pulau Selayar dianggap sebagai suami dan yang ada di Tiongkok dianggap sebagai isteri. Hal ini mengingatkan kita pada nekara yang dipuja berpasangan di daerah Birma yang dipersonifikasikan sebagai pasangan suami isteri.

Nekara yang di atasnya terdapat hiasan katak berukuran lebih tinggi melambangkan pria, sedangkan yang tidak memakai hiasan katak dan berukuran lebih kecil dan rendah melambangkan wanita. Dengan demikian tampak adanya persamaan nilai simbolis dari negara penganut kebudayaan perunggu khususnya nekara di Indonesia dan Asia Tenggara.


Tuliskan Komentar