Situs Sulsel

Posi Tana: Kiblat Kepercayaan Kuno Masyarakat Sulawesi Selatan

Posi tana

Di Sulawesi Selatan, penemuan kebudayaan megalitik sangat mudah kita temui, baik itu menhir, peti mayat atau sarkofagus, dan batu temu gelang (stone enclosure). Yang menarik dari kebudayaan megalitik di Sulawesi Selatan yakni batu temu gelang pada kalangan masyarakat Bugis disebut sebagai posi tana (Makassar: Pocci butta) yang berarti sebagai pusat tanah atau bumi, kampung/daerah.

Batu temu gelang merupakan pola penempatan susunan batu melingkar dengan ditengahnya diletakkan satu altar batu. Batu temu gelang atau posi tana di Sulawesi Selatan dapat kita lihat di Bantaeng, Bulukumba, dan Selayar.

Posi tana juga terdapat di Kecamatan Lamuru, Bone, yang lokasinya berada dalam kawasan Situs Kompleks Makam Raja-raja Lamuru. Bahkan ada beberapa masyarakat yang menganggap bahwa Desa Umpungeng di Soppeng yang merupakan titik tengah Indonesia sebagai posi tana.

posi tana Lamuru
Posi tana di Lamuru, Bone.

Baca juga: Bangunan dan Benda Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Indonesia

Masyarakat Bugis memiliki konsep kepercayaan dengan menandai titik pusat dari segalanya dan merupakan titik pusat kekuatan sekaligus titik kelemahan suatu daerah atau wanuwa. Masyarakat Bugis memfungsikan posi tana sebagai pusat pelaksanaan religi atau upacara adat dan menjadikannya sebagai tempat sakral.

Lokasi ini digunakan sebagai tempat upacara ritual yang berkaitan dengan pertanian, yaitu memohon kepada leluhur agar hasil panen untuk satu musim tanam berjalan menghasilkan padi yang lebih bagus dan tempat ini sering digunakan sebagai tempat upacara dengan memotong ayam, kambing, kerbau atau sapi.

Posi tana di Umpungeng
Posi tana di Umpungeng, Sopeng. Foto: idntimes.com

Di Kabuputen Bulukumba kita bisa menemukan posi tana yang terletak di Desa Mattoanging, Kecamatan Kajang, Bulukumba pada kedudukan GPS S 05° 18′ 54,8″ dan T 120° 20′ 5,54″ dengan ketinggian 144 meter di atas permukaan laut. Jarak lokasi dari Tana Toa (Kajang) adalah ± 14 km. Lokasi ini digunakan sebagai tempat pelantikan raja maupun ketua suku.

Baca juga: Kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Barru

Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti Balai Arkeologi (Balar) Makassar, bahwa di lokasi telah ditemui sebuah batu temu gelang berbentuk struktur batu yang disusun dari batu kapur yang terletak di bawah dasar.

Posi tana di Bulukumba
Posi tana di Bulukumba. Foto: Hasanuddin. Nilai-Nilai Sosial dan Religi Dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan.

Tinggi susunan batu adalah 92 cm, tebal bagian atas 50 cm dan bagian bawah 78 cm, berdiameter 678 cm dengan pintu masuk terletak di bagian barat dengan ukuran lebar 80 cm.

Di bagian tengah terdapat dua batu altar yang terletak secara berdekatan yang berbentuk segi empat dan salah satu di antaranya memiliki panjang 88 cm, lebar 73 cm dan tebal 9 cm.

Baca juga: 3 Religi dan Kepercayaan Tradisional Masyarakat Sulawesi Selatan

Sedangkan penemuan batu temu gelang juga ditemukan di Bantaeng yang diyakini sebagai tempat menghilangnya To Manurung atau raja pertama Karaeng Loe, dan tempat ini juga dinamakan oleh masyarakat Bantaeng dengan sebutan Pallayangang (menghilang).

Posi tana di Bantaeng
Posi tana di Bantaeng. Foto: Hasanuddin. Nilai-Nilai Sosial dan Religi Dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan.

Sekitar 100 meter dari pallayangang, juga ditemukan batu temu gelang yang disebut oleh masyarakat sekitar passaungan tauwa. Lokasi ini dulu digunakan sebagai lokasi untuk dilakukannya pertarungan yang bertujuan untuk memilih panglima perang (bongga kanang).

Sumber:
– Hasanuddin, 2015. Kebudayaan Megalitik di Sulawesi Selatan dan Hubungannya Dengan Asia Tenggara. Tesis, Universitas Sains Malaysia.
– Hasanuddin, 2016. Nilai-Nilai Sosial dan Religi Dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan. Jurnal Oxis.
– historissulsel.blogspot.com/2018/11/possitana-sebagai-kiblat-kepercayaan.html


Tuliskan Komentar