Barru Raya Sulsel

Festival Budaya To Berru Mengusung Tema Passiajingeng: Sebuah Simpul Kekerabatan di Jalur Rempah

Festival Budaya To Berru
Festival Budaya To Berru

Festival Budaya To Berru (FBTB) yang ke-10 mengangkat tema Passiajingeng: Sebuah Simpul Kekerabatan di Jalur Rempah Bandar Pancana.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadikan Jalur Rempah sebagai program prioritas pada 2021. Fokus Jalur Rempah adalah pembuatan peta dan melihat potensi serta upaya kolaborasi untuk mengangkat Jalur Rempah sebagai jati diri bangsa. Berangkat dari hal itu, Pemerintah Kabupaten Barru melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Barru kembali menyelenggarakan Festival Budaya To Berru (FBTB) yang ke-10 dengan mengangkat tema yang berkaitan dengan Jalur Rempah, yaitu “Passiajingeng: Sebuah Simpul Kekerabatan di Jalur Rempah Bandar Pancana.”

Lebih dari 1000 tahun yang lalu, Nusantara merupakan wilayah penghasil rempah-rempah yang sangat dibutuhkan dunia. Rempah-rempah itu diperdagangkan secara estavet melalui pelabuhan-pelabuhan yang saling terhubung dan menjadi mata rantai jalur perdagangan yang dikenal sebagai Jalur Rempah. Keberadaan Jalur Rempah bukan hanya penting bagi jaringan perdagangan, tetapi juga menghasilkan silang budaya antara berbagai bangsa.

Nusantara sebagai wilayah maritim, dari barat ke timur bertebaran ratusan pelabuhan penghubung, dan salah satu mata rantai penghubung Jalur Rempah itu adalah wilayah Kerajaan Tanete di Sulawesi Selatan. Kerajaan Tanete yang sekarang telah menjadi bagian dari Kabupaten Barru merupakan salah satu kerajaan Bugis yang mempunyai kedudukan penting dan strategis di pesisiri Barat Sulawesi. Letaknya yang berada di pesisir laut menjadikan Kerajaan Tanete sebagai kerajaan maritim yang penting dalam perdagangan di Nusantara.

Awal keberadaan sebuah pelabuhan di Tanete yang kala itu masih bernama Agangnionjo sebenarnya bermula pada masa pemerintahan raja Tanete ke-4 yang saat itu dijabat oleh Daeng Ngasseng yang memerintah dari tahun 1573 hingga tahun 1585. Karena perdagangan maritim di Tanete mulai berkembang pesat, terbentuklah sebuah pelabuhan di Tanete, tepatnya di sekitar muara Sungai Tanete yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Pancana. Semakin pesatnya aktivitas perdagangan di pelabuhan Pancana membuat Tanete ramai dikunjungi oleh pendatang dari berbagai bangsa.

Baca juga: Bandar Pancana: Kota Niaga Masa Lalu di Barru

Letak Strategis Bandar Pancana

Kedudukan geografi Pelabuhan Pancana sangat penting dari segi jalur perdagangan maritim di kawasan barat Sulawesi Selatan. Letaknya diapit oleh dua sungai besar, yaitu sungai Lipukasi di Utara dan Sungai Pancana di Selatan. Pelabuhan Pancana di Tanete mempunyai hubungan pelayaran dengan kerajaan sekitanya, seperti Suppa dan Bacukiki di Utara; Siang, Tallo, Somba Opu dan Sanrobone di Selatan. Sehingga pelabuhan Pancana tumbuh pesat sebagai pelabuhan dalamperdagangan antarpulau karena kedudukannya yang sangat strategi itu.

Di samping itu, Tanete juga mempunyai hubungan dengan kawasan pedalaman hingga sampai ke Kerajaan Soppeng di Timur, sebab Pelabuhan Pancana merupakan salah satu akses pelabuhan terdekat bagi Kerajaan Soppeng. Sementara itu, di Bagian barat Pelabuhan Pancana adalah Selat Makassar, maka sudah menjadi jalur perlintasan perdagangan dan pelayaran antara Sulu (Filipina) dan Laut Jawa.

Komoditi Perdagangan

Di kerajaan Tanete dan sekitarnya merupakan sumber berbagai bahan untuk diperdagangkan di Pelabuhan Bandar Pancana, khususnya hasil bumi. Adapun komoditi perdagangan dari hasil pertanian yang banyak diperdagangkan yaitu beras, padi, kelapa, dan jagung. Sedangkan untuk komoditi perdagangan dari hasil peternakan yaitu ayam, kerbau, sapi, dan kuda. Ada pula komoditi hasil laut seperti teripang, kerang dan ikan, terutama perikanan laut, juga yang dilakukan dengan kolam air laut dan rawa air tawar di pantai. Beberapa jenis ikan yang diperdagangkan telah melalui proses pengolahan seperti diasinkan atau dikeringkan.

Untuk komoditi perdagangan dari hasil hutan, pada umumnya yang diperdagangkan adalah berbagai jenis kayu. Jenis-jenis kayu yang berharga adalah jati, ipi, biti, cenrana, laoting dan aju amara. Selain beberapa jenis kayu, juga diperdagangkan hasil hutan lain seperti Rotan dan sirih. Untuk perdagangan hasil hutan yang telah diolah diantaranya adalah gula merah dan kopra.

Baca Juga: Sejarah Perdagangan Biji Pala, Rempah-Rempah yang Mengubah Dunia

Rempah-rempah khas yang diperdagangkan di Tanete hanya terbatas pada kemiri dan biji kepayan (kaloa). Untuk barang komoditi industri, kelihatannya sektor ini masih kurang berarti. Namun orang bisa menemukan beberapa pandai emas dan perak di antara penduduk, pandai besi dan tukang kayu; pembuatan kapal terbatas pada pembuatan perahu sungai sederhana (lepa-lepa dan sampan). Industri tenun dikelola sebagai cabang kerajinan oleh wanita. Ekspor sarung sudah berlangsung, begitu juga anyam-anyaman bambu, rotan dan daun lontar; termasuk anyaman tikar dan keranjang.

Beberapa barang komoditi yang dihasilkan di Tanete ini biasanya diperdagangkan atau dibarter dengan barang-barang komoditi dari daerah lain yang tidak terdapat di Tanete. Barang-barang itu di antaranya adalah garam, kain, tenun, manufaktur dan barang-barang rumah tangga.

Kedatangan Berbagai Bangsa

Semakin pesatnya aktivitas perdagangan di Bandar Pancana membuat Tanete ramai dikunjungi oleh pendatang dari berbagai bangsa. Semenjak masa pemerintahan raja Tanete Deng Ngasseng, telah berdatangan bangsa-bangsa dari luar, seperti Orang Malaka yang diberikan tempat untuk tinggal di Kampung Coppo, Orang Minangkabau di Kampung Balenrang, dan Orang Jawa Semarang di Kampung Patimang.

Kemudian pada masa pemerintahan raja Tanete ke-5 yang saat itu dijabat oleh Daeng Majannag yang memerintah dari tahun 1585 sampai tahun 1589, juga telah berdatangan bangsa-bangsa lain mulai dari suku Mandar hingga suku-suku yang berdiam di Jazirah pantai selatan Sulawesi Selatan seperti orang Turatea yang terdiri dari orang Jeneponto, Takalar, Bantaeng.

Kedatangan bangsa luar di Pancana juga terjadi pada masa pemerintahan raja Tanete yang ke-8, yang saat itu dijabat oleh Petta Tomaburu Limanna yang memerintah dari tahun 1597 hingga tahun 1603. Pada masa pemerintahan raja ini bangsa Portugis yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Parengki atau Paranggi masuk ke Tanete, mereka kemudian diberikan tempat tinggal di sebelah selatan hulu sungai Lajari, kampung itu kemudian dikenal sebagai Kampung Laparengki. Orang-orang portugis juga diizinkan untuk berdagang dan membuka loji (kantor) dagang di Tanete. Salah satu peninggalan orang Portugis yang masih tersisa sampai sekarang yaitu kue Bolu Paranggi.

Baca juga: Riwayat Petta Tomaburu Limmanna dan Perubahan Nama Kerajaan Agangnionjo Menjadi Tanete

Di antara bangsa-bangsa luar yang masuk dan menetap di Tanete, bangsa Melayu adalah yang paling dominan dan memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Tanete. Kedatangan orang Melayu secara besar-besaran ke Tanete terjadi pada akhir abad ke-16, sekumpulan orang Melayu dalam jumlah besar tiba di Tanete dengan dipimpin oleh seorang perempuan bagsawan yang disebut sebagai Puteri Johor. Rombongan itu tiba di Pelabuhan Tanete dengan menggunakan sebuah kapal besar dan diiringi oleh banyak kapal-kapal kecil.

Dikisahkan ketika Putri Johor itu tiba di Pelabuhan, ia kemudian turun dari kapalnya dengan cara diusung menggunakan tangan yang disilangkan (dalam Bahasa Bugis dikenal dengan istilah ripanca) itulah sebabnya kampung tempat datangnya Putri Johor itu dikenal dengan nama Kampung Pancana. Riwayat lain mengatakan asal-usul nama Pancana berasal dari nama kapal Putri Johor yang bernama kapal “Panca”.

Rombongan Putri Johor ini kemudian diberikan tempat pemukiman di Kampung Pancana. Selain di Pancana, orang-orang Melayu juga berdiam di sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Anche, nama Kampung Anche sendiri berasal dari gelar nama pada orang-orang Melayu yang selalu menggunakan kata Inche di depan nama mereka.

Putri Johor yang tiba di Tanete merupakan keturunan bangsawan yang kaya dari Kerajaan Johor. Ia bermigrasi ke Tanete munggunakan kapal besar serta diiringi dengan banyak pengikutnya yang setia. Sang putri itu meninggalkan Johor karena pergolakan politik yang melanda Johor pada masa itu. Diduga bangsa Portugis yang telah menguasai Kota Malaka sejak tahun 1511 telah melakukan penindasan terhadap Johor. Selain itu, Kesultanan Aceh juga melakukan serangan terhadap Johor. Penyerangan dari dua pihak terhadap Johor tiada henti-hentinya itu menimbulkan penderitaan, kekisruhan, dan peperangan sehingga banyak orang Johor yang pergi meninggalkan negerinya.

Kemunduran Bandar Pancana

Keberadaan Bandar Pancana sebagai salah satu mata rantai perdagangan di pesisir Barat pulau Sulawesi terus berkembang dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Petta Pallase-Lase’e. Namun, kejayaan Pelabuhan ini tidak berlangsung lama setelah Belanda (VOC) berhasil menundukkan Sultan Hasanuddin pada Perang Makassar tahun 1666-1667. VOC memonopoli perdagangan di Timur, mengalihkan dan memusatkan semua perniagaan di Makassar yang membuat semua pelabuhan di sekitarnya praktis mengalami kemunduran, termasuk Pelabuhan Pancana.

Baca juga: Membandingkan Kekayaan VOC Dengan Perusahaan Besar di Era Sekarang

Pelabuhan Pancana benar-benar menagalami kehancuran dan kematian aktivitas setelah pelabuhan itu dibombardir meriam oleh Belanda pada peristiwa Rumpana Pancana atau Perang Pancana pada tahun 1824. Di mana belanda menyerang Kerajaan Tanete untuk menangkap raja Tanete yang saat itu dijabat oleh La Patau karena menentang kebijakan politik dan ekonomi Belanda. Semenjak ditinggalkannya Pelabuhan Pancana, beberapa pelabuhan rakyat yang lain pun mulai bermunculan. Slaha satunya yaitu menuculanya pelabuhan baru di Sumpang Binangae yang berada di bawah kendali kerajaan Barru.

Silang Budaya Bugis-Melayu

Kedatangan orang-orang Melayu di Tanete bukan hanya sekedar menetap untuk berdagang, tetapi juga telah terjadi proses silang budaya antara penduduk setempat. Interaksi yang terjadi bukan saja sekedar hubungan perniagaan, tetapi juga telah terjadi perkawinan antara orang-orang Melayu dengan masyarakat asli Tanete yang bersuku Bugis. Dari perkawinan ini nantinya akan menghasilkan raja-raja atau bangsawan Tanete yang merupakan keturunan Melayu.

Raja Tanete ke-9 yang saat itu dijabat oleh Petta Pallase-lase’e yang memerintah dari tahun 1603 hingga tahun 1625 lah yang dicatatkan memulai hubungan kekerabatan anatara bangsawan Tanete dengan orang Melayu melalui perkawinan. Ini bermula ketika pernikahan antara Petta Pallase-Lase’e menikah dengan Putri dari Johor pada tahun 1600. Perkawinan Petta Pallase-Lase’e dengan Putri Johor telah melahirkan generasi yang menjadi pewaris tahta Kerajaan Tanete. Setelah Petta Pallase-Lase’e wafat, tahta kerajaan diwariskan kepada putranya yang bernama Petta Matinroe ri Bulianna. Dialah raja pertama di Tanete yang berstatus sebagai keturunan Bugis dan Melayu.

Baca juga: Petta Pallase-Lase’E dan Masuknya Agama Islam di Barru

Denagn terjalinnya hubungan kekerabatan (passiajingeng) antara Bugis dan Melayu, beberapa budaya Melayu pun sempat mempengaruhi perkembangan budaya di Tanete. Pengaruh Melayu baik berupa nama, model rumah dan pakaian masih sangat muda ditemui. Beberapa orang Bugis sempat menyandang nama gelar Inche di depan nama mereka yang merupakan gelar dari Melayu, seperti Inche Rahim, Inche Nurdin, dan Inche Salma. Ada juga nama yang berkonotasi Melayu seperti Djohar Manikam atau Djauhari/Juhari/Johari.

Pengaruh budaya Melayu pada arsitektur bangunan yaitu diantaranya pada bangunan istana kerajaan Tanete yang pernah dibangun oleh Datu Ngasseng, di mana atap istananya terdiri dari tiga bagian yang merupakan bentuk atap istana Melayu Minangkabau. Pada tahun1940-an juga di daerah Pancana masi banyak rumah berbentuk gaya Melayu, setengah tembok dan rumah panggung. Sementara pengaruh Melayu pada tata cara berpakaian dibuktikan dengan pernah populernya baju Melayu yang modelnya sangat mirip dengan baju labbu.

Sejak dahulu orang Melayu telah berperan dalam birokrasi dan perkembangan ekonomi serta sosial budaya. Beberapa tokoh Melayu yang berperan penting yaitu Inche Husa yang menjadi Syahbandar di Kerajaan Gowa, Juru Tulis istana Inche Amin di zaman Sultan Hasanuddin, dan yang paling popular yaitu penulis ulang naskah I La Galigo oleh Colli Pujie Arung Pancana Toa. Memang setelah adanya pengaruh Melayu, sastra dan budaya tulis-menulis semakin berkembang di Sulawesi Selatan. Menurut beberapa sumber, Colli Pujie adalah Ratna Kencana, Putri Johor Manikam, Putri Inche Ali Abdullah Datu Pabean, Syahbandar Makassar abad XIX yang tak lain keturunan arus balik Bugis dari Johor.


Tuliskan Komentar