Barru Raya Modern Tokoh

Tanete-Barru Pada Masa Pemerintahan Andi Baso Paddippung

Andi Baso Paddippung merupakan anak dari La Tenrisessu Datu Bakke atau cucu dari We Tenriolle. Ia memiliki beberapa saudara salah satunya yaitu Andi Abdul Kadir Latenrisessu. Andi Baso juga memiliki anak yang bernama Andi Hajera, anaknya ini kemudian dinikahkan dengan Andi Abdul Muis Tenridolong yang merupakan anak dari bangsawan Soppeng dan Citta.

Andi Abdul Muis ini nantiya terkenal sebagai seorang pahlawan kemerdekaan yang menjadi salah seorang pemrakarsa berdirinya Komite Nasional Indonesia Tanete (KNI Tanete) dan organisasi perjuangan kelaskaran Gerakan Pemuda Tanete (GPT) serta menjadi ketua atau pemimpinnya.

Andi Baso mulai memerintah di Tanete pada tahun 1940. Masa pemerintahan Andi Baso bisa dikatakan unik karena ia mengalami tiga zaman selama masa pemerintahannya di kerajaan Tanete, yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Dalam masa pemerintahannya, ia telah mengalami pengaruh kekuasaan Belanda yang semakin besar.

Kewenangannya sebagai seorang raja sudah sangat merosot dibanding dengan kewenangan yang pernah dinikmati oleh para pendahulunya. Ia tidak banyak menikmati hak-hak istimewa sebagaimana yang pernah dialami oleh raja sebelumnya. Pengaruh dan kekuasaannya memang masih tetap besar, karena ia dikenal sebagai raja yang sabar, baik hati dan tegas dalam tindakannya.

Baca juga: Swapraja Tanete-Barru Pada Masa Pemerintahan Andi Iskandar Unru

Di masa pemerintahan Andi Baso ini kerajaan Tanete telah berstatus sebagai zelfbestuur di bawah kekuasaan Belanda. Artinya kerajaan Tanete merupakan bagian dari wilayah Hindia Belanda namun tetap menjalankan pemerintahan sendiri.

Zelfbestuur Tanete bersama zelfbestuur Soppeng Riaja dan zelfbestuur Mallusetasi selanjutnya tergabung ke dalam onderafdeling Barru. Sementara onderafdeling Barru tergabung ke dalam afdeling Parepare. Untuk membantu pemerintahan Andi Baso di zelfbestuur Tanete, maka diangkat lah Andi Iskandar Unru sebagai wakil dari Andi Baso.

Masa pemerintahan Andi Baso Paddippung memang unik karena ia mengalami puncak kekuasaan Belanda, tetapi ia juga menyaksikan atau mengalami keruntuhan dan kehancuran kekuasaan Belanda karena mendapat serangan dari Jepang yang telah menguasai sebagian besar wilayah Asia Pasifik. Hanya dalam sekejap Jepang telah menguasai seluruh wilayah Indonesia menggantikan kekuasaan Belanda, tidak terkecuali di Tanete.

Sempat berjaya selama kurang lebih tiga setengah tahun, Jepang akhirnya mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik melawan Tentara Sekutu setelah Kota Horosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Kekalahan jepang itu mengakibatkan kekosongan pemerintahan di Indonesia, keadaan tersebut dimanfaatkan oleh para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Baca juga: Riwayat Perjuangan Laskar Gerakan Pemuda Tanete

Jadi, bisa dikatakan masa pemerintahan Andi Baso Paddippung di Tanete melintasi tiga zaman, yaitu zaman Hindia Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan Indonesia.

Andi Baso Paddippung
Andi Baso Paddippung. Foto: Facebook (Muh Makmur).

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia resmi memproklamasikan kemerdekaan. Cita-cita bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan akhirnya terwujud. Namun, Belanda yang sebelumnya menguasai wilayah Nusantara kembali ingin berkuasa di Indonesia dengan dibantu oleh pasukan Sekutu. Tercatat sebanyak dua kali Belanda melancarakan agresi militernya di Indonesia.

Sementara itu, di pihak Indonesia tidak begitu saja rela membiarkan Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Oleh karena itu terjadilah pertempuran di berbagai pelosok Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pengaruh gerakan kemerdekaan sampai juga di Tanete dalam masa pemerintahan Andi Baso. Salah seorang saudaranya, Andi Abdul Kadir Latenrisessu mempelopori pembentukan Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) di Tanete yang telah berdiri sejak tahun 1929.

Pengaruh pembentukan partai politik pertama di Tanete ini membawa pengaruh pada pembentukan gerakan kebangsaan pada hari-hari pertama Proklamasi kemerdekaan. Pemuda Tanete mempelopori gerakan bersenjata yang terjadi di seluruh wilayah Onderafdeling Barru dibawah pimpinan Andi Abdul Kadir dan Andi Abdul Muis Tenridolong yang merupakan menantu Andi Baso.

Baca juga: Perjuangan Abdul Karim di Barru Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Selama menjadi penguasa di Tanete, Andi Baso tidak banyak berbuat apa-apa karena tekanan dari penguasa Belanda dan penguasa Jepang. Bahkan pada masa kemerdekaan, meskipun Andi Baso tidak ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan penjajah. Meskipun demikian, sebagai seorang raja, ia tetap memberi dukungan dan restu terhadap rakyatnya yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Ia bahkan kerap memberikan bantuan yang diperlukan oleh para pejuang, baik itu berupa dukungan moril maupun materil. Perjuangan terus berkecamuk di Tanete, banyak organisasi perjuangan yang telah dibentuk di Tanete diantaranya Komite Nasional Indonesia Tanete (KNI Tanete) yang dipimpin oleh Andi Abdul Muis, serta organisasi kelaskaran Gerakan Pemuda Tanete (GPT) yang dipimpin oleh Abdul Karim.

Peperangan terus berlangsung di Tanete, beberapa organisasi perjuangan di Tanete kerap kali melakukan penyergapan terhadap pasukan-pasukan Belanda. Sementara itu Belanda membalas tindakan para pejuang di Sulawesi Selatan dengan mengutus Kapten Raymond Westerling bersama pasukan pasukan khususnya untuk melancarkan operasi kampanye di Sulawesi Selatan.

Westerling melakukan pembantaian terhadap penduduk di Sulawesi Selatan, tercatat ada sekitar 40.000 ribu jiwa korban dari pembantaian Westerling, tidak terkecuali di Tanete dan Barru. Di Tanete, Westerling melakukan pembantaian di Lisu Pasa Baru, tercatat ada 48 korban. Sementara di Salomoni, tercatat ada 45 korban. Kekejaman Westerling berlanjut ke Barru dan berhasil mengeksekusi sekitar 30 orang.

Baca juga: Koleksi Foto Pembantaian Westerling di Barru

Pimpinan laskar GPT, Abdul Karim kemudian gugur dalam pertempuran di Bottoe pada tanggal 22 April 1946. Sementara pimpinan KNI Tanete Andi Abdul Muis Tenridolong berhasil ditangkap kemudian dibawa ke Barru untuk dipenjara. Selanjutnya dipindahkan ke Parepare kemudian dibawa ke Pinrang dan tidak diketahui nasibnya.

Namun berdasarkan surat yang diterima oleh Andi Baso dari Kontroleur Barru menyatakan bahwa Andi Abdul Muis telah ditembak mati setelah mencoba melarikan diri pada tanggal 3 Februari 1947. Akan tetapi menurut Sullewatang Pinrang yang bernama Andi Calo bahwa pada tanggal 3 Februari 1947 ia melihat Andi Abdul Muis, Andi Abdullah Bau Massepe, dan Abdul Kadir dibawa oleh pasukan Westerling ke Utara Kota Pinrang dan tidak kembali lagi.

Andi Baso mengundurkan diri dari pemerintahan dalam tahun 1950, untuk menjaga kekosongan pemerintahan, Pemerintah Darurat Sulawesi Selatan menunjuk Andi Iskandar Unru sebagai pejabat di Tanete yang sebelumnya menjabat sebagai wakil dari Andi Baso.

Kepustakaan:
                    Abduh, Muhammad. DKK. 1981. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme Dan Kolonialisme Di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
                    Amir, Muhammad. 2011. Andi Abdul Muis Tenridolong, Patriot yang Konsekuen Hingga Tetes Darah Terakhir. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan.
                    Koro, Nasaruddin. 2006. Ayam Jantan Tanah Daeng, Siri dan Pesse, Dari Konflik Lokal Hingga Pertarungan Lintas Batas. Jakarta: Ajuara.
                    Pawiloy, Sarita. 1987. Arus Revolusi 45 di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Provinsi Sulawesi Selatan Masa Bakti 1985-1989.
                    Rasyid, Darwas. 1990. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Daerah TK. II Kabupaten Barru. Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang.
                    Walinono, Hasan. 1979. Tanete, Suatu Studi Sosiologi Politik. Disertasi. Makassar: UNHAS.
                    Yusuf. 2000. Perjuangan Abdul Karim Mempertahankan Kemerdekaan di Tanete Barru (1945-1946). Skripsi. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Tuliskan Komentar