Nasional

Catatan Konflik Harimau Jawa dengan Manusia di Masa Lalu

Harimau Jawa atau harimau Sunda (Panthera tigris sondaica) adalah subspesies harimauyang hidup terbatas (endemik) di Pulau Jawa. Harimau ini telah dinyatakan punah pada sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis.

Mekipun sekarang Harimau Jawa sudah dinyatakan punah, namun di masa lalu, Harimau Jawa merupakan penguasa rimba Pulau Jawa yang kerap terjadi konflik dengan manusia.

Dalam sebuah artikel yang berjudul “The impact of the Krakatoa eruption in 1883 on the population of Rhinoceros sondaicus in Ujung Kulon, with details of rhino observations from 1857 to 1949” oleh Nico van Strien (1946-2008), didapati beberapa catatan yang berkaitan dengan konflik Harimau Jawa dengan manusia.

Dari catatan seorang naturalis Swedia pada tahun 1752, bahwa sangat berbahaya untuk mencapai pantai Ujungkulon di Banten karena banyaknya karang. Saat berjalan dari pantai dia mendapati hutan yang sangat lebat, lembab dan berbahaya karena banyaknya harimau dan karnivora lainnya.

Sekelompok pria dan anak-anak berfoto dengan harimau Jawa yang mati diburu pada Mei 1941 di Malingping, Banten. Foto: tirto.id

Tidak diragukan lagi masa itu Harimau Jawa masih sangat melimpah. Namun ternyata saking melimpahnya, pernah ada masa dimana terjadi wabah harimau.

Beberapa catatan Belanda menyatakan di Ujung Kulon memang pernah terjadi wabah harimau pada sekitar awal 1900-an. Yang dimaksud wabah harimau di sini adalah konflik antara manusia dangan Harimau Jawa. Apakah konflik Harimau Jawa dengan manusia hanya terjadi di Banten/Jawa Barat?

Ternyata tidak, berdasarkan informasi dari buku “Frontiers of Fear – Tigers and People in the Malay World, 1600-1950.” (2001) oleh Prof. Peter Boomgaard, sejarawan terkemuka tentang Indonesia dan mantan direktur KITLV (Institut Kerajaan untuk Bahasa, Tanah dan Etnologi/Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia). Dia juga pernah menjadi Profesor Emeritus Sejarah Lingkungan dan Sejarah Ekonomi Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di Universitas Amsterdam.

Buku ini bercerita tentang hubungan antara manusia dengan harimau di daerah Nelayu (Malaysia, Sumatera, Jawa dan Bali) dalam kurun tahun 1600-1950. Butuh waktu lebih dari 10 tahun buat Boomgaard untuk menyelesaikan buku ini. Saking banyaknya sumber kutipan, sampai diperlukan 25 halaman hanya untuk kutipan saja.

Dari buku Boomgaard diceritakan bahwa saat pertama Belanda datang ke Jawa dengan perusahaan dagangnnya VOC, Harimau Jawa ada dimana mana. Mereka merupakan salah satu masalah bagi belanda dan orang-orang pribumi yang sedang mambangun Kota Batavia tahun 1619. VOC kemudian membentuk tim pemburu harimau untuk mengatasi masalah ini. Tahun 1624 harimau membunuh sekitar 60 orang di Batavia saja.

Rampokan macan, sebuah pertunjukan di Jawa pada masa lampau, di mana seekor harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dikurung dalam segiempat yang dibentuk empat barisan orang bersenjatakan tombak. Sang macan tidak ada pilihan selain tertusuk oleh tombak. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan oleh pembesar pribumi, terutama bupati. Litografi ini dibuat berdasarkan lukisan oleh Rappard. Foto: id.wikipedia.org

Sejak tahun 1644, VOC memberikan hadiah bagi mereka yang berhasil membunuh harimau ataupun macan tutul. Pada tahun 1659, sekelompok pemotong kayu asal Semenanjung Melayu (Malaysia) yang bekerja di Karawang memutuskan kembali ke Batavia karena kehilangan 14 orang oleh harimau dalam masa hanya 2 bulan saja, meskipun di Batavia sendiri juga masih mengalami konflik ini.

Tahun 1670 harimau dan macan tutul masih sering ditangkap disekitar Batavia setiap hari. Satu abad kemudian, tepatnya tahun 1748 masih terdapat sekitar 80 harimau dan macan tutul dibunuh disekitar batavia.

Selain di Batavia, konflik juga terjadi di bagian lain pulau Jawa. Tahun 1820 sekitar 500-an orang meninggal dimangsa harimau di pulau Jawa dan pada tahun 1850 menurun menjadi 200-an. Penurunan ini karena akibat perburuan, jumlah harimau mulai menurun, jumlah manusia meningkat dan mulai berkurangnya wilayah hutan.

Tahun 1855 terdapat 147 orang terbunuh oleh harimau di Pariangan (Bandung). Dua kali lebih tinggi dari rata-rata tahunan seluruh pulau Jawa waktu itu. Alasanya mengarah karena bencana kekeringan. Dan ternyata ada hubungan antara bencana dengan peningkatan jumlah serangan harimau kepada manusia. Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 banyak meninggalkan jenazah korban manusia yang tidak terkubur yang pada akhirnya dimakan harimau. Saat jenazah itu sudah habis, harimau mulai berkonflik dengan manusia.

Lukisan Prabu Siliwangi dikelilingi oleh Harimau Jawa. Foto: kanaljabar.com

Kembali ke Pariangan, data menunjukkan pada 1875-1880, terjadi bencana lagi yaitu gagal panen dan kemungkinan banyak terdapat korban meninggal akibat kelaparan, setelahnya terjadi peningkatan jumlah konflik dengan harimau. Selain Batavia dan Pariangan, derah lain yang disebutkan kerap mengalami konflik adalah Banten, Karawang, Cirebon, Jepara, beberapa daerah di Jawa tengah, Pasuruan, Probolinggo dan Besuki/Banyuwangi.

Boomgaard menyimpulkan bahwa Sumatera dan Jawa merupakan tempat yang jauh lebih berbahaya dari India karena mencetak skor yang lebih tinggi dari India mengenai konflik harimau-manusia dengan mempertimbangkan faktor rasio jumlah penduduk serta luas wilayah pada tahun 1800.

Namun pada awal abad ke-20, skornya kemudian menjadi lebih rendah dari India. Alasan utamanya adalah jumlah harimau yang menurun drastis. Dengan kata lain sejak 1900, perang antara harimau dan manusia di Jawa sudah hampir usai dan bisa disimpulkan pemenangnya, manusia.

Dikatakan hampir usai karena catatan menyebutkan bahwa masih terjadi konflik sporadis. Hama harimau terakhir terjadi tahun 1946 di Banyuwangi ketika 64 orang meninggal oleh harimau selama periode 10 bulan. Tidak diketahui alasannya namun kemungkinan karena banyak korban perang pada awal kemerdekaan indonesia.

Lukisan Macan Kesepian karya Raden Saleh. Foto: historia.id

Apakah ini artinya Harimau Jawa adalah pemakan manusia? Tentu tidak, banyak faktor yang mempengaruhi. Sama dengan kasus Harimau Bengal memangsa manusia, kita tidak bisa manganggap semua Harimau Bengal pemangsa manusia karena masih banyak Harimau Bengal yang normal.

Pada umumnya di Jawa, daerah yang terdampak konflik adalah daerah hutan yang mulai dibuka untuk ditanami atau ditinggali, daerah yang menjadi gesekan antara manusia dengan fauna liar, sedangkan daerah pelosok atau pedesaan dimana masih banyak mangsa alami untuk harimau tidak terjadi konflik ini.

Kearifan lokal sering menyebut Harimau Jawa dengan sebutan “mbah” atau kakek/yang di tuakan/yang di hormati. Mereka menyatakan jika tidak sengaja bertemu, mereka tidak akan mengganggu dan akan pergi menghindar.

Tuliskan Komentar