Barru Raya Warta Sejarah

Museum Colliq Pujie, Museum Pertama di Kab. Barru

Museum Colliq Pujie
Museum Colliq Pujie di Alun-alun Kota Barru (kiri) dan lukisan wajah Colliq Pujie (kanan).

Museum Colliq Pujie merupakan museum pertama di Kabupaten Barru yang lokasinya tepat berada di tengah alun-alun Kota Barru.

Kabupaten Barru merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki kekhasan sejarah dan budayanya tersendiri. Di masa lalu wilayah ini memiliki banyak kerajaan yang kemudian dilebur menjadi satu kabupaten. Kabupaten Barru juga dikenal dengan keragaman budaya dan tradisinya yang unik.

Namun demikian, perkembangan zaman terus menggerus pengetahuan akan sejarah dan budaya itu. Tentunya untuk mencegah hilangnya nilai sejarah dan budaya diperlukan pelestarian dan pengenalan kepada masyarakat, khususnya kepada geneasi muda sebagai pewaris kebudayaan.

Untuk mewujudkan semua itu, diperlukan adanya sarana yang bisa menunjang pengenalan terhadap sejarah maupun budaya berupa pendokumentasian ataupun tempat untuk mengumpulkan benda bersejarah maupun berkaitan dengan budaya seperti bangunan museum.

Baca juga: Sejarah Singkat 4 Kerajaan yang Pernah Berdiri di Kabupaten Barru

Pendokumentasian berupa pembuatan buku-buku sejarah di Barru telah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu, namun keinginan masyarakat Barru untuk memiliki museum sendiri baru bisa diwujudkan tahun ini.

Keberadaan sebuah museum di Barru memang sangat penting, memngingat selama ini belum pernah ada sebuah musem yang didirikan di Barru, dengan demikian museum ini merupakan museum pertama di Kabupaten Barru yang sangat dinanti oleh masyarakat.

Museum ini diberi nama Museum Colliq Pujie, berlokasi tepat berada di tengah-tengah taman Alun-Alun Colliq Pujie di Kota Barru. Bukan hanya pemberian nama museum Colliq Pujie ini karena berada dalam satu kompleks Alun-Alun Colliq Pujie, tetapi juga nama Colliq Pujie dianggap sebagai salah satu tokoh sejarah yang menjadi ikon Kota Barru.

Baca juga: Mewujudkan Barru Sebagai Bumi Colliq Pujie

Colliq Pujie atau Ratna Kencana lahir pada tahun 1812, setelah ia terjun dalam dunia politk maka ia digelar sebagai Arung Pancana Toa Datu Lamuru, Colliq Pujie merupakan salah satu bangsawan Bugis yang berdarah Melayu.

Meski turut aktif dalam kehidupan politik di Kerajaan Tanete dan Lamuru, namun Collik Pujie lebih dikenal sebagai seorang sastrawan. Ia terkenal dengan karya-karya sastranya yang cemerlang sejajar dengan penulis-penulis Barat yang dibuktikan dengan berbagai karyanya seperti Elong Sejarah Tanete, Syair Sarea Baweng, dan Hikayat Bayan Budiman.

Dan salah satu karyanya Colliq Pujie yang dianggap paling monumental yaitu ketika ia mengumpulkan dan menyalin kembali kisah-kisah I La Galigo bersama dengan B.F. Matthes.

Baca juga: B.F. Matthes dan I La Galigo

Bagunan museum Colliq Pujie tepat berada di tengah alun-alun. bentuk bnagunannya bundar dan tidak terlalu besar. Awalanya bangunan itu dibuat pada tahun 2013 yang direncanakan akan difungsikan sebagai kantor pengelola taman kota alun-alun Colliq Pujie, namun bangunan itu tidak pernah difungsikan sebagaimana yang direncanakan awalnya.

Salah satu tantangan untuk mewujudkan sebuah museum di Barru yaitu bangunan yang ideal untuk difungsikan sebagai bangunan museum. Bangunan bersejarah yang sempat diusulkan untuk dijadikan bangunan museum adalaha rumah adat Saoraja Lapinceng atau istana Raja Balusu, namun status kepemilikannya masih dikelola oleh keturunan raja Balusu, serta lokasinya kurang strategis karena berada jauh dari pusat kota.

Dengan demikian yang dipilih menjadi bangunan museum adalaha bangunan kantor peneglola alun-alun yang tidak pernah difungsikan sebelumnya. Museum Colliq Pujie dikelola oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Barru dan menjadi salah satu aset daerah.

Baca juga: Colliq Pujie: Sastrawan Bugis Berdarah Melayu

Saat ini museum masih dalam tahap untuk mengumpulkan koleksi yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Sebagian besar koleksi bendanya merupakan hibah pemberian dari berbagai pihak.

Di dalam museum ini terdapat berbagai macam koleksi benda-benda seperti berbagai gerabah ataupun keramik, payung yang menjadi symbol kerajaan-kerajaan di Barru, barang-barang kolonial seperti botol air minum, tempat perhiasan, serta beberapa kronik berupa lontara dan mushaf Al-Qur’an.

Selain itu koleksi museum juga dilengkapi dengan berbagai foto-foto dan gambar tokoh, tempat, maupun peristiwa yang disertai dengan penjelasannya, termasuk deretan foto-foto para pejabat bupati yang pernah memerintah di Kabupaten Barru.

Tuliskan Komentar