Budaya Sulsel

MasugiMaraja: Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja

Bugis Makassar Mandar Toraja
Tari 4 Etnis.

Sulawesi Selatan dikaruniai keberagaman etnis yang terdiri dari Suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Empat etnis ini disingkat MasugiMaraja.

Indonesia merupaka negara kepulauan yang penuh dengan keragaman budaya, suku bangsa, ras, etnis, agama, maupun bahasa daerah. Meski kaya akan keragaman, namun mereka tetap satu Indonesia. Ini sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang artinya meskipun berbeda-beda tetap satu jua.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan bahasa. Kemajukan itu terjalin dalam satu ikatan bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat.

Kemajemukan bangsa Indonesia tidak hanya terlihat dari beragamnya jenis suku bangsa. Tapi terlihat juga dari beragamnya agama yang dianut penduduk. Keragaman Indonesia adalah kekayaan sekaligus berkah bagi bangsa Indonesia.

Salah satu wilayah Indonesia yang terkenal akan keberagaman suku bangsanya adalah Sulawesi Selatan. Di wilayah ini, terdapat empat etnis utama yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.

Baca juga: Asal Usul dan Proses Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Keberagaman etnis inilah yang menyebabkan masyarakat Sulawesi Selatan dianggap memiliki kekayaan yang besar (Bahasa Bugis: masugi maraja) dalam hal sejarah, budaya, dan tradisi.

Suku Makassar

Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkasara’ berarti “Mereka yang Bersifat Terbuka.”

Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara.

Ma'raga (Bugis Makassar Mandar Toraja)
Olah raga tradisional Ma’raga oleh masyarakat Masyarakat. Foto: kabarnusantaranews.com

Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adu domba Belanda terhadap kerajaan taklukannya.

Baca juga: Antimacassar Dan Macassar Oil: Bukti Nama Makassar Tersohor di Dunia

Masyarakat Makassar dikenal sebagai masyarakat pemberani, keras, dan berjiwa petualang. Ciri utama yang menjadi identitas suku Makassar yaitu penggunaan bahasa daerah yang juga dikenal sebagai Bahasa Makassar.

Bahasa Makassar sendiri dapat dibagi lagi kedalam beberapa sub kelompok bahasa, yaitu Lakiung, Turatea, Konjo, dan Selayar.

Suku Bugis

Suku Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.

Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka.

Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading yang merupakan tokoh sentral dalam naskah epos I La Galigo yang terkenal.

Mappadendang (Bugis Makassar Mandar Toraja)
Tradisi Mappadendang oleh Masyarakat Bugis. Foto: etnis.id

Baca juga: I La Galigo: Menyelami Karya Sastra Terbesar dari Sulawesi

Suku Bugis dikenal sebagai suku perantau yang menyebar luas ke berbagai daerah di Indonesia. Orang Bugis melakukan perantauan besar-besaran di kawasan Nusantara sejak abad ke-17 Masehi.

Koloni-koloni suku Bugis ditemukan di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Pontianak, Johor, dan Semenanjung Melayu. Di perantauan, koloni suku Bugis mengembangkan pelayaran, perdagangan, perikanan, pertanian dan pembukaan lahan perkebunan.

Suku Mandar

Suku Mandar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat, serta sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Populasi Suku Mandar dengan jumlah Signifikan juga dapat ditemui di luar Sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatra bahkan sampai ke Malaysia.

Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan.

Sayyang Pattuddu (Bugis Makassar Mandar Toraja)
Tradisi Sayyang Pattuddu oleh masyarakat Mandar. Foto: washilah.com

Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan.

Baca juga: Seperti Apa Ritual Pemakaman Orang Bugis dan Makassar Pada Masa Pra-Islam?

Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (saling menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.

Suku Toraja

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Kata Toraja berasal dari bahasa Bugis, To Riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909.

Upacara Rambusolo (Bugis Malassar Mandar Toraja)
Upacara Rambusolo oleh Masyarakat Toraja. Foto: attoriolong

Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman rambusolo, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Suku Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo.

Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa’dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Selain itu, terdapat pula beberapa dialek lain seperti Kalumpang, Mamasa, Tae’ , Talondo’ , dan Toala’.

Keberagaman suku di Sulawesi Selatan yang terdiri dari Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja merupakan salah satu kekayaan bangsa yang tidak semestinya dianggap sebagai pemisah, melainkan dianggap kekayaan dan kebanggaan bersama.


Tuliskan Komentar