Barru Raya Kuno Modern

Sejarah Kerajaan Balusu (Soppeng Riaja) dan Perlawanannya Terhadap Imperialisme

Kerajaan Soppeng Riaja merupakan salah satu dari empat kerajaan yang pernah berdiri dan kini membetuk Kabupaten Barru (Tanete, Barru, Nepo/Mallusetasi, dan Balusu/Soppeng Riaja). Keunikan sejarah dan perjuangan rakyatnya melawan imperialisme tidak kalah hebat dari tiga kerajaan lainnya.

Dalam Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Barru (tahun 1985) yang diselenggarakan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan dijelaskan bahwa di Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru sekarang, sebelum Belanda berkuasa di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa kerajaan lili (kerajaan vasal atau kerajaan kecil) yang otonom diantaranya Balusu, Siddo, Kiru-Kiru, dan Ajjakkang. Raja dari kerajaan ini pada mulanya adalah raja-raja turunan dari kerajaan Soppeng.

Pada permulaan Belanda berkuasa di Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1905, setelah perlawanan rakyat dari kerajaan-kerajaan ini dikalahkan, beberapa kerajaan lili ini dilebur menjadi satu kerajaan atau Zelfbestuur dengan nama Soppeng Riaja oleh Belanda.

Diantara kerajaan-kerajaan lili yang tergabung kedalam Zelfbestuur Soppeng Riaja, hanya kerajaan Balusu yang sering mengalami peperangan, baik peperangannya melawan sesama kerajaan seperti kerajaan Mandar, kerajaan Tanete, maupun peperangannya membantu Kerajaan Soppeng, dan terakhir melawan serta menentang masuknya penjajah Belanda.

Baca juga: Perspektif Baru Sejarah Kemunculan Kerajaan Nepo

Pada awalnya kerajaan Balusu ini merupakan lili dari kerajaan Ajatappareng yang rajanya silih berganti dan merupakan turunan dari kerajaan Bone, Soppeng, Wajo, dan Gowa. Asal usul nama kerajaan Balusu sendiri berasal dari nama sejenis bekicot yang banyak terdapat di perairan laut Balusu.

Pada awal abad ke XVII atau sekitar tahun 1619 setelah agama Islam mulai masuk di kerajaan Balusu dan sekitarnya, kerajaan Balusu kemudian memisahkan diri dari kerajaan Ajatappareng.

Pada abad ke XIX, ketika kerajaan Soppeng berperang melawan Kerajaan Sidenreng. Dalam peperangan itu, pasukan Soppeng berhasil dipukul mundur sampai ke wilayah Maccile oleh pasukan Sidenreng. Disaat itu lah pasukan Balusu di bawah pimpinan Andi Muhammad Baso Balusus datang membantu pasukan Soppeng.

Saoraja Lapinceng yang merupakan Istana kerajaan Balusus (Soppeng Riaja). Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Pada pertempuran di Maccile itu akhirnya pasukan Soppeng dapat memenangkan peperangan atas bantuan pasukan Balusu. Oleh karena atas bantuan pasukan Balusu itu, raja Soppeng ke XXXV yang saat itu dijabat oleh Andi Zainab memberikan penghargaan kepada Andi Muhammad Baso dan mengangkatnya menjadi Sulle Datue atau yang bertugas sementara menjalankan pemerintahan apabila sang raja berhalangan. Selain jabatan Sulle Datue, ia juga diangkat menjadi pemimpin pasukan kerajaan Soppeng.

Baca juga: Kisah Unik Penyelesaian Sengketa Batas Antara Nepo dan Sidenreng

Petta Sulle Datue kemudian mendirikan tiga buah Istana. Yang pertama mendirikan istana di Lapasu dengan nama Saoraja Mattanru (sekarang istana ini sudah tidak ada). Yang kedua mendirikan istana di Buludua dengan nama Saoraja Lapinceng (sampai sekarang istana ini masih berdiri di Balusus). Dan terakhir mendirikan istana yang bernama Saoraja Lamacang, juga berada di Buludua (istana ini juga sudah tidak ada lagi).

Pada tahun 1905, Belanda kemudian menyerang kerajaan Soppeng. Atas serangan itu, secara tidak langsung kerajaan Balusu juga turut terlibat karena merupakan sekutu terdekat kerajaan Soppeng. Hanya dalam beberapa hari saja kerajaan Soppeng dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat situasi itu, Petta Sulle Datue mengadakan pertemuan dengan kerajaan lili lainnya seperti Siddo, Kiru-Kiru, dan Ajjakkang, untuk menentukan sikapa dalam menghadapi Belanda. Dalam pertemuan itu, semua kerajaan sepakat akan melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian memulai serangan terhadap Balusu menggunakan perahu, mereka mendarat di pinggir laut antara Takkalasi dan Bawa Saloe. Sementara itu pasukan Balusu dan kerajaan sekitarnya telah bersiap untuk menghadang pasukan Belanda. Petta Sulle Datue melakukan perlawanan menggunakan senjatanya yang bernama Bolong Ringgi dan sebuah keris yang bernama Lamba Belo. Pertempuran terjadi selama dua hari dua malam, akhirnya pasukan Belanda dapat dipukul mundur. Hanya tersisa sepuluh orang saja dari pihak Belanda yang berhasil melarikan diri dengan perahunya.

Karena banyaknya korban dari kedua belah pihak pada pertempuran itu menyebabkan rakyat menguburkan mayat korban perang selama dua hari. Sedangkan mayat pasukan Belanda dipisahkan dan dikuburkan di Lapasu, sementara yang tidak sempat dikuburkan mayatnya dibuang saja ke Sungai Lampoko sehingga air sungai berubah menjadi merah karenanya.

Baca juga: Arung Patappuloe: Empat Puluh Raja yang Memerintah Secara Bersamaan

Berselang satu bulan kemudian, Belanda melakukan serangan untuk kedua kalinya dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar melalui laut dan darat. Kedatangan pasukan Belanda itu kembali mendapat perlawanan dari rakyat Balusu. Beberapa raja dari kerajaan lili lainnya satu per satu mulai menyerah kepada Belanda. Selain dari pada itu, juga penghianatan salah seorang anggota kerajaan Soppeng yang bernama Jennang Mangiri menunjukkan jalan kepada Belanda untuk menyerang Balusu di bagian Timur dari arah Soppeng. Melihat keadaannya semakin terdesak, diserang dari arah Barat dan Timur, Petta Sulle Datue bersama sisa pasukannya terpaksa mundur masuk ke pegunungan. Gudang persenjataan kerajaan Balusus yang berada di Larokko kemudian dibakar oleh Belanda yang mengakibatkan kekalahan total bagi kerajaan Balusu.

Saoraja Lamattanru yang merupakan salah satu istana kerajaan Balusu diambil alih oleb Belanda dan dijadikan sebagai kantor serta basis komando di wilayah Zelfbestuur Soppeng Riaja. Petta Sulle Datue kemudian kembali ke Balusu dan menyerahkan diri kepada Belanda, ia kemudian diangkat kembali menjadi raja di Balusu namun seluruh alat perang dan benda pusakanya disita oleh Belanda. Hanya keris Lamba Belo saja yang tidak disita oleh Belanda karena sebelumnya Petta Sulle Datue telah menggantinya dengan keris yang serupa. Petta Sulle Datue kemudian wafat pada tahun 1910 sebagai raja Balusu yang terakhir.

16 Komentar

  • Catatan istilah sebaiknya diperbaiki; Bolong Ringgi diberi kata La didepannya, jadi La Bolong Ringgi; nama tempat tertulis Larokko, sebenarnya Laparoko.
    Kerajaan Soppeng Riaja adalah Kerajaan Bayangan bukan kerajaan sesungguhnya karena terbentuknya menurut administrasi politik Belanda, sampai sekarang ini peninggalannya diperpanjang menjadi sebuah kecamatan induk di Kabupaten Barru dan telah dimekarkan dengan terbentuknya Kecamatan Balusu. Dengan demikian, wilayah sebagai sisa pemekaran Soppeng Riaja diperlukan dapat berubah nama Kecamatan Kiru-Kiru. Istilah Soppeng Riaja salah satunya berbasis kolonialisme di Kabupaten Barru sebaiknya dikembalikan menurut sejarah atau adat.

  • Tercatat 3 Saoraja dibangun Petta Sulle-datu Di Kerajaan Balusu; sebenarnya menurut ketatanegaraan di Kerajaan Lili misalnya Balusu, Kiru-kiru dan Ajakkang, Saoraja tempat kediamannya Raja yakni La Mattanru berdiri dengan digotong oleh rakyat /to pabbanuae, bukan dibangun oleh pribadi Petta atau Raja. La Mattanru adalah Saoraja dibangun oleh Pabbanua maka Saoraja seperti ini disebut Saoraja Adat. Tempatnya di Lapasu, di sampinnya dibangunkan sebuah Masjid. Maka dari pihak kepurbakalaan yang perlu dicagar budayakan adalah tempatnya Saoraja La Mattanru dan Masjid di Lapasu.

  • Rumah kediaman di Bulu Dua merupakan bangunan tidak terkait dengan pemerintahan, dibangun oleh pribadi Sulle-datue sendiri untuk keluarga ahliwarisnya, dua rumah besar berdiri pada tahun 1898 disebut Saoraja Kembar diberi nama Lapinceng dan La Macang. Kedua Rumah Besar ini telah diberi atap seng, belum terpasang lantai papan dan dinding, Petta Sulle-datue wafat pada tahun 1910. Jadi, di Kerajaan Balusu sebagai situs yang terkait dengan adat adalah Saoraja La Mattanru bersama Mushallah atau sekarang Masjid di sampingnya.

  • Saoraja bernama La Mattanru di Lapasu, merupakan nama diambil berasal dari Kerajaan Induk di Watang Soppeng, serupa dengan nama Saoraja di Jl. A. Mangkau Kota Parepare.
    La Pinceng adalah nama yang sama dengan Saoraja tempat penobatan di Kerajaan Tanete, di Coppo Matajang disebut Saoraja Lapinceng, kediaman Baso Mattapie Arung Tompo Bulu Putra Lapatau Datu Tanete XIII Matinroe ri Salomoni.

  • Balusu di Soppeng Riaja sebelumnya memilik nama klasik disebut LemoE. Balusu dari bahasa Bugis berasal dari kata Malusu artinya pakaian terlepas disebut juga Maludung, pemimpin atau raja di Lemoe keadaannya demikian selalu bergantian, maka siapa saja raja di sini, disebut Balusu yakni Raja Pergantian, tidak ada bedanya dengan kerang-kerangan dilaut yg kosong penghuninya, kemudian datang penggantinya disebut bekicot atau istilah kaloman bahasa Bugis. Jadi, sebagai Raja Kerajaan Balusu bukan pemilik sesungguhnya, tetapi pemilik sebenarnya adalah Para Uwa’ di Lemoe sebagai dewan adat yang mengangkat Raja disebut To Mangngade atau Makkasuwiyyang artinya orang mengabdi kepada raja.

  • Raja disebut Petta ri Balusu, perkiraan dimulai setelah terjadi perang saudara antara Latodani Raja Sidenreng dan Latenritata Arumpone pada abad 17, pada saat itu Lemoe sekarang Balusu merupakan wilayah jajahan kerajaan Sidenreng. Kemenangan di tangan Arung Palakka bersama dengan Pasukan Raja Soppeng. Dengan demikian, rakyat di Lemoe ini telah melepaskan diri dari Sidenreng dan memilih menaklukkan wilayahnya ke kerajaan Soppeng.
    Masyarakat Lemoe mengirim utusan di Kerajaan Soppeng yang berjanji akan bernaung sebagai daerahnya, maka Balusu kemudian berubah sebagai Lili Kerajaan Soppeng, raja terkirim di sini bergelar Petta sebagai raja perpanjangan berkedudukan di daerah. Petta dijamin oleh penguasa setempat disebut Pakkatenni Ade, yaitu Para Pemuka/Matowa di Balusu yang disapa dengan istilah Uwa.

  • Petta ri Balusu adalah Raja Kerajaan Soppeng di daerah sebaga vasal atau provinsi, kehidupannya dijamin dengan gaji tertentu berasal dari tanah sawah persiapan untuk itu sebagai tanah adat disebut tanah sawah Arajang; di Balusu terdapat beberapa tanah arajang sumber nafkah diberikan kepada Petta ri Balusu, yaitu La Timpa, La Maloang, La Sanru dan La Koto.
    Konon nama tersebut diberikan, ketika Raja diminta adalah seorang perempuan St. Saleha namanya, beliau dijemput bukan dengan kuda tunggangan tetapi dengan tanduh sebagai kendaraannya yang diusung sampai tiba di Balusu. Perjalanannya melewati hutan dan pegunungan، ketika ia hampir tiba, kudungnya dibuka terlebih dahulu disebut La Timpa, kemudian berdiri di atas tandunya ia berkata luasnya disebutlah La Malowang, demikian ketika ia makan menggunakan sendok disebutlah La Sanru, dan setelah kenyang dinyatakan kepuasannya disebutlah La Koto. Itulah dari sejumlah tanah merupakan jaminan kepada siapa saja diangkat Petta ri Balusu, St. Saleha diangkat Arung Lili Kerajaan Soppeng yang pertama ri Balusu.

  • Petta ri Balusu I St. Saleha dijemput di sebuah tempat bernama Jempo SaloE, beliau berada di daerah merupakan simbol bahwa Lemoe yang kini disebut Balusu telah berada dibawah perlindungan Kerajaan Soppeng, Balusu kini merupakan kerajaan berdiri sebagai negeri protektorat dengan biaya pengeluaran membayar semacam pajak kerajaan disebut upeti.

  • Petta ri Balusu kedudukannya tidak di lapangan memerintah, tetapi yang menjalankan pemerintahan adalah Para Pakkatenni Ade sebagai Arung setempat; terdiri atas Matowa sebagai senator disamping merupakan Ketua Adat, juga kepala pemerintahan yang dibantu oleh Pakkatenni Ade lainnya, Pabbicara, Sullewatang, Parennung dan Jennang. Jangan berkata, Petta ri Balusu segala-galanya, Kerajaan Balusu bukan kerajaan absolut, tetapi sebuah kerajaan parlementair yang menentukan kebijakan adalah para uwa’ didalamnya berkedudukan sebagai senator atau anggota dewan to pabbanua.

  • Kira-kira 2 tahun St. Saleha diangkat Petta ri Balusu, beliau berhenti atas permintaan sendiri dan kedudukannya diserahkan kepada sepupunya Tenri Kawerang Arung Sao Lebba merangkap Petta ri Balusu II setelah dipertimbangkan oleh Dewan Adat.
    Tenri Kawerang adalah isteri Sumange Rukka Arung Pao2 Tanete melahirkan 2 anak; La Patongai Datu Pattiro mattinroe ri Galung, dan La Passamulu Matinroe ri Jera Lompoe Watang Soppeng.
    La Passamula dilantik menggantikan kedudukan Ibunya yang merangkap Arung Sao Lebba, dilantik dengan pertimbangan adat Balusu. Dengan demikian, Balusu sejak berdiri sebagai Lili Kerajaan Soppeng berturut-turut telah diangkat 3 org Arung Lili, yakni St. Saleha, Tenri Kawerang, dan La Passamula sebagai Arung Lili Balusu ke 3.

  • Lapassamula menikah dengan sepupu satu kalinya I Bonga Petta Indo ri Lampoko Putri Launru Datu Soppeng XXXI. Dalam perkawinannya melahirkan Putra lebih dikenal Baso Balusu atau Andi Muhamad Saleh Dg. Parani. Ia dilantik berdasarkan keputusan dewan adat sebagai Petts ri Balusu IV dalam sejarah Balusu Lili Kerajaan Soppeng. Di samping itu, ia diberi pangkat istimewa di Kerajaan Soppeng dengan predikat Sulle-datu, oleh Raja St. Zaenab, karena beliau banyak berjasa membantunya dalam sebuah perang yang melawan Kerajaan Sidenreng pada akhir abad XIX.

  • Keadaan Petta Ri Balusu IV berbeda dengan sebelumnya yang bersifat passif, di istana tempat tinggalnya dibangun oleh To Pabbanua, segala kebutuhannya di istana seterusnya dijamin, tidak diberi hak berusaha di pertanian dan perdagangan, di istananya telah disiapkan Jennang dan Pallapi Aro sebagai halnya satpan sekarang ini.
    Tetapi Petta ri Balusu terakhir dituntut keadaan untuk aktif karena perbedaan situasi menghadapi perubahan dengan keadaan baru yang ditantang, salah satunya perkembangan dihadapi adalah penjajahan Belanda. Ia sangat menolak ditaklukkan dan bekerja sama dengan Belanda, disebabkan beliau sangat geramnya, beliau mengucakan laknat/tanro ade kepada siapa yang membantu Belanda; nigi-nigi tau rangengi La Pute Mata mapparenta pupuru sorokawui paddimunrinna, artinya barang siapa mendampingi Belanda memerintah generasinya di kemudian hari hancur seperti abu.

  • Petta Ri Balusu IV, tidak kembali menjadi Raja, karena ia sendiri yang menolaknya untuk kembali diangkat Belanda, dari padanya menyarankan diganti oleh keluarga lain, yakni keturunan Arung Lenrang adalah seorang mempunyai dua nama La Enre dan La Tobo. Ia diangkat Belanda pada tahun 1906.

  • Petta Ri Balusu A. Muhammad Saleh Dg Parani, selain ia disebut Baso Balusu, juga dengan sebutan lainnya dikenal La Cella Mata sebab dari kedua matanya kemerahan. Menurut cerita rakyat bahwa ia kadang kala dari sepupunya di Tanete mengirimkan kepadanya ikan disebut salamata, ia dikirimkan tidak sekali atau duakali yang membuat beliau tersinggung karena dianggap dirinya diejek yang memanfaatkan nama ikan disebut Salamata. Beliau tidak sekadar tersinggung, tetapi dilanjutkan dengan memerintahkan orang konon berasal dari Nepo yang terkenal berani untuk pergi ke Tanete mengambil sepupu tersebut dapat dibawa ke Balusu. Utusan tidak diperintahkan membunuhnya kecuali hanya dipanggil dan didatangkannya. Tetapi kejadiannya yang didatangkan adalah kepala manusia sebagai sepupu tersebut dibawa ke Balusu, maka rakyat Tanete menjadi marah dan berangkat ke Nepo menyerang, dan inilah yang dianggap perang antara Balusu dan Tanete.

  • Terkait dengan cerita di atas, pada suatu saat pernah seorang penjual ikan lewat di depan saoraja, ia memanggil si penjual ikan dan berkata bale aga mubalu (ikan apa dijual), kebetulan ikannya dijual adalah nama ikan yang terkait dengan mata Beliau, yakni bale cella dan salamata. Dari pada ia jangan tersinggung, maka penjual tersebut untuk keselamatannya sepontan menjawab, Bale Kanja Puang. Dengan demikian, sejak di sini sebagai nama ikan Salamata disebut pula Kanja’.

  • Kerajaan Balusu bersama dengan Kerajaan Lili lainnya, setelah mereka menyatakan diri kalah melawan Belanda pada Rumpa Balusu th 1905, maka pihak Belanda berinisial membentuk institusi baru di wilayah bersifat otonom disebut Zelfbestuur Soppeng Riaja dipimpin seorang kepala atau ketua bergelar tradisional Arung, dan dibantu oleh Pabbicara, Sullewatang, dan Kali.
    Zelfbestuur Soppeng Riaja berdiri pada tahun 1908, secara berturut-turut dipimpin oleh keluarga rumpung bersifat Dinasti Keturunan Lenrang dan Silaja, yaitu La Enre / La Tobo, La Maddiawe, La Dagong Dg. Ngemba. Mereka kemudian popular dalam keluarga to maraja di Mangkoso dan sekitarnya disebut-sebut H. A. Tobo Petta Coa, A. Maddiawe Petta Lawallu، dan H. M. Yusuf A. Dagong Petta Soppeng.
    Arung Soppeng Riaja I meninggal di Makkah 1957. Adapun II dan III meninggal pada tahun 1941 dan 1993 di Wiringtasi dan Mangkoso Darussalam. Wassalam, selamat membaca.

Tuliskan Komentar