Modern Mondial

Prajurit Terakhir yang Gugur Pada Perang Dunia Pertama

Kemenangan Sekitu
(c) historianet.nl

Belgia, 11 November 1918. Sudah empat tahun semenjak Perang Dunia Pertama dimulai. Pada pagi hari, pasukan Jerman telah mundur. Sementara itu, pasukan Inggris dari Brigade Infanteri Kanada ke-6 dipilih untuk menyerang pasukan Jerman yang bergerak mundur.

Dari Brigade ke-6, Batalion ke-28 dan Batalion ke-31 ditunjuk untuk memimpin serangan. Batalion ke-28 diperintahkan untuk maju dari Desa Frameries dan melanjutkan ke Desa Havre untuk mengamankan semua jembatan di Kanal du Centre.

Batalion maju dengan cepat mulai pukul 04:00 pagi, mereka mengikuti pasukan Jerman yang sedang mundur tanpa perlawanan. Pengejaran kemudian dihentikan ketika mereka mencapai posisi di tepi Kanal du Centre menghadap Desa Ville-sur-Haine.

Baca juga: 6 Film Sejarah Berlatar Belakang Perang Dunia 1 Terbaik

Sementara itu di Prancis, pada pukul 05:00, gencatan senjata dengan Jerman ditandatangani di Kota Compiegne. Namun gencatan senjata baru akan berlaku efektif nanti pada Pukul 11:00 (jam sebelas, tanggal sebelas, dan bulan sebelas).

Serangan musim semi Jerman
Pasukan Jerman menyelinap ke garis musuh selama upaya terakhir Jerman untuk memenangkan perang. Pada 21 Maret, serangan musim semi Jerman dimulai dengan serangan mendadak yang harus menembus posisi musuh. Tetapi serangan itu gagal, dan serangan berakhir pada bulan Juni. Tentara Jerman kelelahan dan lemah, hingga akhirnya ditarik mundur. Foto: historianet.nl

Batalion ke-28 baru menerima pesan dari Prancis pada pukul 09:00 pagi bahwa akan diadakan gencatan senjata dan semua permusuhan akan berhenti tepat pada pukul 11:00 nanti.

Tetapi, prajurit George Lawrence Price dan Arthur Goodmurphy yang merupakan anggota Batalion ke-28 khawatir, sebab posisi mereka di tepi kanal sangat terbuka, sehingga rentan untuk diserang balik oleh Jerman yang berada di seberang kanal.

Baca juga: Putaran Roda Sejarah Sepeda

Tidak lama kemudian, dari arah posisi pasukan Jerman, mereka melihat batu bata telah dilempar keluar dari atap rumah seakan-akan pasukan Jerman membuat posisi menembak.

Prajurit George Lawrence Price
Prajurit George Lawrence Price. Foto: en.wikipedia.org

Atas inisiatif sendiri dari George Price dan Goodmurphy, mereka memutuskan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari lima orang untuk melakukan patroli.

Kelompok kecil patroli yang dibentuk itu kemudian mulai bergerak melewati jembatan, melintasi kanal, kemudian menggeledah rumah-rumah di seberang kanal itu. Mereka mendatangi rumah-rumah dan memeriksanya satu per satu.

Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati tentara Jerman memasang senapan mesin di sepanjang dinding bata yang menghadap ke kanal.

Baca juga: Pertempuran Laut Aru: Peristiwa Berdarah Pembebasan Irian Barat

Jerman kemudian menembaki kelompok patroli itu dengan tembakan senapan mesin berat, tetapi kelompok patroli Lawrence Price masih sempat berlindung pada dinding bata salah satu rumah. Sadar bahwa mereka telah dikepung, Jerman mulai mundur meniggalkan posisinya.

Pada 11 November pukul 11 ​​pagi, tentara Sekutu punya alasan untuk tertawa. Jerman telah menandatangani gencatan senjata, Jerman telah kalah, dan permusuhan berakhir. Foto: historianet.nl

Satu keluarga Belgia di salah satu rumah memperingatkan kelompok Lawrence Price untuk berhati-hati ketika mereka mengikuti orang Jerman yang mundur.

Pada pukul 10:57, ketika George Price melangkah keluar dari rumah ke jalan, tiba-tiba terdengar suara letusan tembakan. George Price langsung roboh terkena peluru di dada kirinya oleh penembak jitu Jerman.

Dia ditarik ke salah satu rumah dan dirawat oleh seorang perawat muda Belgia yang berlari menyeberang jalan untuk membantu. Tetapi, George Lawrence Price meninggal satu menit kemudian pada pukul 10:58, 11 November 1918.

Kematiannya hanya berselang dua menit sebelum gencatan senjata mulai berlaku efektif pada jam 11:00 pagi. Dia adalah yang terakhir dari 9 juta tentara yang terbunuh selama Perang Dunia Pertama.


Tuliskan Komentar