Modern Nasional Tokoh

Ibrahim Yaacob, Orang Bugis yang Memperjuangkan Konsep Negara Indonesia Raya

Ibrahim Yaacob
Ibrahim Yaacob. Foto: facebook - Ibrahim Yaacob (IBHY)

Ibrahim bin Haji Yaakob atau yang lebih dikenal sebagai Ibrahim Yaacob adalah pejuang kemerdekaan Malaya. Dia merupakan presiden dan pendiri Kesatuan Melayu Muda (KMM) bersama Mustapha Hussain, dan merupakan tokoh politik Melayu yang menentang pemerintah kolonial Britania (Inggris) di Malaya.

Ibrahim Yaacob merupakan pendukung gagasan “Indonesia Raya” yang menghendaki penyatuan Malaya dengan wilayah bekas Hindia Belanda (kini Indonesia) menjadi sebuah negara yang besar.

Asal-usul Ibrahim Yaacob

Ibrahim Yaakob berasal dari keluarga keturunan Bugis, di Sulawesi Selatan yang merantau ke Pahang di Semenanjung Malaya pada awal abad ke-19. Ibrahim Yaakob lahir di Tanjung Kertau, Pahang, pada tanggal 27 November 1910 – meninggal di Jakarta, 8 Maret 1979 pada umur 68 tahun.

Kedua orang tuanya yang berasal dari Sulawesi Selatan merantau ke Riau dan seterusnya ke Temerloh, Pahang, sekitar tahun 1920-an. Ayah Ibrahim Yaacob bernama Haji Yaakob, merupakan guru agama dan tokoh yang dihormati. Sedangkan ibunya bernama Hawa binti Hussein.

Baca juga: Makna Sebuah Nama Dalam Masyarakat Bugis dan Makassar

Ketika berusia 2 tahun, kedua orang tua Ibrahim Yaacob bercerai sehingga Ibrahim hanya dirawat oleh ibunya dengan hidup sederhana. Istri Ibrahim Yaacob adalah Maria Kamel bin H Siraj lahir 15 Disember 1920 dan meninggal dunia pada 20 November 2002.

Ibrahim Yaacob mendapat pendidikan awal di sekolah Melayu di Tanjung Kertau pada tahun 1918 ketika berusia tujuh tahun. Pada tahun 1928, beliau telah dipilih menjadi guru pelatih di Pusat Latihan Perguruan di Kuantan, Pahang.

Ibrahim Yaacob
Ibrahim Yaacob. Foto: arie-widodo.blogspot.com

Munculnya gagasan konsep negara Indonesia Raya

Indonesia Raya atau Melayu Raya adalah konsep politik yang bertujuan untuk mempersatukan ras bangsa Melayu yang terpisah dalam wilayah koloni Britania Raya di Semenanjung Malaya dan Borneo Utara (wilayah yang kini membentuk negara Malaysia, Singapura, dan Brunei), dengan Hindia Belanda (kini Indonesia), serta wilayah koloni Portugis di Timor Leste menjadi suatu bangsa besar dan berdaulat.

Gagasan Melayu Raya ini diajukan pertama kali oleh seorang guru sejarah dari Universitas Pendidikan Sultan Idris, Abdul Hadi Hassan, Malaya Britania. Selain karena persamaan suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya kebanyakan rakyatnya sebagai bangsa serumpun dan serantau di Nusantara.

Baca juga: Opini: Bagaimana Masyarakat Bugis dan Makassar Mengarungi Laut?

Gagasan ini didasari kesadaran sejarah bahwa wilayah Malaya Britania, Borneo Utara, dan Hindia Belanda dulu pernah dipersatukan dalam sebuah kerajaan superior, seperti Sriwijaya, Majapahit, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor-Riau, yang akhirnya dipisahkan oleh kolonialisme Inggris dan Belanda.

Pada akhir dekade 1920-an gagasan membentuk negara kebangsaan yang merdeka dan berdaulat tumbuh di antara rakyat koloni Hindia Belanda. Sementara di Semenanjung Malaya gagasan untuk membentuk Melayu Raya diajukan.

Di Hindia Belanda, tokoh pemuda pergerakan nasional lebih memusatkan perhatian pada gagasan untuk menyusun negara kebangsaan Indonesia sebagai pewaris Hindia Belanda jika kelak menjadi negara merdeka. Pada tahun 1928 dicetuskanlah Sumpah Pemuda yang bertujuan mempersatukan bangsa Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan.

Kelompok nasionalis Melayu, yaitu Kesatuan Melayu Muda, yang didirikan oleh Ibrahim Yaakob pada tahun 1938, adalah salah satu organisasi yang secara tegas menganut gagasan komsep negara Indonesia Raya atau Maleyu Raya sebagai cita-cita perjuangannya.

Konsep Nagara Indonesia Raya
Konsep Negara Indonesia Raya. Foto: id.wikipedia.org

Baca juga: Asal Usul dan Proses Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Masa pendudukan Jepang

Pada saat Perang Dunia II, para pendukung gagasan Indonesia Raya atau Melayu Raya bekerja sama dengan kekuatan tentara pendudukan Jepang untuk melawan Inggris dan Belanda. Sikap bekerja sama ini didasari dengan harapan bahwa Jepang akan mempersatukan Hindia Belanda, Malaya dan Borneo dan kemudian memberikan kemerdekaan.

Dipahami bahwa dengan bersatunya wilayah koloni Eropa ini dalam suatu wilayah pendudukan Jepang, maka pembentukan sebuah kesatuan negara Indonesia Raya atau Melayu Raya dimungkinkan.

Pada bulan Juli 1945 dibentuk Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung (KRIS), yang kelak diubah menjadi Kekuatan Rakyat Indonesia Istimewa di bawah pimpinan Ibrahim Yaakob dan Dr. Burhanuddin Al-Hemy dengan tujuan mencapai kemerdekaan dari Britania Raya, dan persatuan dengan Indonesia. Rencana ini sudah dirundingkan dengan Sukarno dan Hatta.

Pertemuan Ibrahim Yaacob dengan Sukarno

Pada 12 Agustus 1945 Ibrahim Yaakob bertemu dengan Sukarno, Hatta, dan Dr. Radjiman di Taiping, Perak. Sukarno dan rombongan singgah di bandar udara Taiping dalam perjalanan pulang dari Kota Hồ Chí Minh, Vietnam, menuju Jakarta setelah sebelumnya bertemu dengan Marsekal Terauchi di Dalat untuk membicarakan mengenai percepatan rencana kemerdekaan Indonesia dan menerima pernyataan Terauchi secara langsung bahwa Jepang mengizinkan Indonesia merdeka.

Pada pertemuan ini Yaakob menyatakan niatannya untuk menggabungkan Semenanjung Malaya ke dalam Indonesia merdeka. Sukarno dan Muhammad Yamin adalah tokoh politik Indonesia yang sepakat dengan gagasan persatuan raya ini. Akan tetapi mereka enggan untuk menyebut gagasan ini sebagai “Melayu Raya” dan menawarkan nama lain yaitu “Indonesia Raya.”

Baca juga: Orang Indonesia yang Gugur Sebagai Tentara Nazi Jerman

Pada hakikatnya baik Melayu Raya maupun Indonesia Raya adalah gagasan politik yang sama persis. Keengganan untuk menamai Melayu Raya karena berbeda dengan di Malaya, di Indonesia istilah Melayu lebih merujuk kepada suku Melayu yang dianggap hanyalah sebagai salah satu dari berbagai suku bangsa di Nusantara, yang memiliki kedudukan yang setara dengan Minangkabau, Aceh, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Dayak, Bugis, Makassar, Minahasa, Ambon, dan lain sebagainya.

Penghimpunan berdasarkan ras atau suku bangsa Melayu dikhawatirkan rawan dan kontra-produktif dengan persatuan Indonesia yang mencakup berbagai suku bangsa, agama, budaya, dan ras karena banyak suku bangsa di Indonesia Timur seperti orang Papua, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur, bukanlah termasuk rumpun Melayu Austronesia, melainkan rumpun bangsa Melanesia.

Pertemuan Ibrahim Yaacob dan Sukarno
Pertemuan antara Ibrahim Yaacob dan Sukarno. Dari kiri ke kanan: Mayjen Akamatsu, Moh. Hatta, Rajiman, Sukarno, Ibrahim Yaacob, dan Kolonel Itagaki. Foto: facebook – Ibrahim Yaacob (IBHY).

Gagalnya rencana pembentukan Indonesia Raya

Akan tetapi pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar Jeoang, Hirohito, tiba-tiba mengumumkan lewat siaran radio bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada kekuatan Sekutu. Republik Indonesia secara mandiri memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Baca juga: 15 Fakta Sejarah Saat Awal Kemerdekaan Indonesia yang Jarang Diketahui

Karena dituding sebagai kolaborator Jepang, pada tanggal 19 Agustus 1945 Ibrahim Yaakob dengan menumpang pesawat terbang militer Jepang terbang ke Jakarta. Ibrahim Yaakob mengungsi ke Jakarta bersama isterinya Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hassan Manan.

Ibrahim Yaakob yang memperjuangkan gagasan bersatunya Semenanjung Malaya dengan Indonesia kemudian bermukim di Jakarta hingga akhir hayatnya. Dengan jatuhnya Jepang pada bulan Agustus 1945, semua cita-cita persatuan itu praktis mati dan tidak berkembang lagi di Semenanjung Malaya sejak saat itu.

Selepas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, melalui perjuangan bersenjata dalam Revolusi Nasional Indonesia dalam kurun tahun 1945-1949, Republik Indonesia akhirnya mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949.

Sementara itu setelah pendudukan Jepang, Semenanjung Malaya dan Borneo Utara praktis berada di bawah kekuasaan dan kendali Britania Raya (Inggris). Wilayah itu oleh Inggris dibentuk menjadi Persekutuan Tanah Melayu yang kemudian hari menjadi negara Malaysia.

3 Komentar

Tuliskan Komentar