Budaya Sulsel

Makna Sebuah Nama Dalam Masyarakat Bugis dan Makassar

Sebagaimana pada banyak tempat di dunia ini, khususnya di Jawa, penamaan nama seorang anak oleh orang tuanya dimaksudkan agar si anak dapat membawa berkah dan memberi keberuntungan, minimal kepada si pemberi nama.
Sampai-sampai di tengah perjalanan hidup, sang anak tak jarang diganti namanya lantaran anak tadi selalu dirundung sial. Sebegitu sakralnya sebuah nama bagi komunitas masyarakat.
Pangkal sebabnya, sang anak diharapkan hidup sejahtera, makmur dan panjang umur. Di Jawa misalnya penamaan kepada anak memiliki arti penting. Imbuhan nama Urip atau Bejo agar panjang umur dan kaya. Meski kemudian dalam perjalanan hidup kelak takdir seorang mungkin bernasib lain.
Di Sulawesi Selatan sendiri, arti sebuah nama mengandung makna dengan berbagai varian. Ambil misalnya di daerah Bugis. Di sana pemberian nama Mappeare (mempererat) agar yang bersangkutan bias menjadi pemersatu. Hal ini serupa dengan nama Mappease (memperkokoh).
Lain lagi dengan pemberian nama Mappesammeng, tak lain adalah simbol kesopanan dalam hubungan antar sesama, sedangkan pemberian nama Matteru (terus/lurus) agar jalan hidupnya lurus, sementara itu pemberian nama Maddolangeng (petualang) yang berarti penjelajah lautan.
Bagaimana dengan di Makassar. Yang terang nama Tuppu (menanjak) diberikan supaya hidup si empunya nama terus mengalami peningkatan secara kualitatif. Berbeda lagi dengan nama Samaturu (sejalan), yang berarti sikap toleran.
Nah, apabila ingin maju dan tak tertandingi, maka disandangkan nama Paliweng (melampaui). Sementara untuk menjadi kuat dan sehat, nama Gassing (kuat) adalah pilihan yang pantas.
Adapun di Bugis nama dengan tambahan awalan La menunjukkan laki-laki, misalnya La Getteng (Si Tangguh) dan La Baco/Baso, untuk perempuan diberi tambahan I, misalnya I Cinnong (Si Jernih) dan I Becce/Besse. Berbeda dengan di Makassar, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai tambahan awalan nama I di depannya, seperti I Gassing untuk laki-aki, smentara I Sunggu untuk perempuan.
Selain itu ada juga nama khusus yang dipakai oleh bangsawan wanita maupun pria. Umumnya yang berasal dari Luwu kemudian menitis kepada keturunannya yang memerintah di daerah lain. Bagi laki-laki, diberi nama La Tenrisessu, artinya tidak dapat ditukar, dan La Tenritatta bermakna tidak tertebas, terlampaui ataupun tidak dapat diperintah.
Sedangkan untuk turunan bangsawan wanita , misalnya We Tenriolle dan Tenrileleang artinya yang tidak dijajakan. Nenek moyang mereka menganggap bahwa sesuai adat pangngadereng, nama tersebut tidak bisa digunakan kalau bukan dari kalangan bangsawan.
Ambil contoh riwayat gelar Daeng dan Andi bisa dirunut pada pemakaian gelar Daeng di mana bangsawan Bugis memakai gelar tersebut sebagai tambahan, semisal Makkaterru Daeng Parukka. Namun di Makassar selain bangsawan, orang biasapun mengimbuhi depan namanya dengan Daeng.
Perihal gelar ini, berhubung karena pemakaian gelar Daeng bukan hanya dipakai oleh bangsawan, maka pasca tahun 30-an para bangsawan di Bugis menukarnya dengan gelar Andi. Masih beragam pendapat mengenai gelar ini.
Namun suatu hal yang patut dicatat adalah bahwa tempo dulu seorang dianggap kurang sopan memanggil nama secara langsung, oleh sebab itu diberikanlah nama tambahan terutama bagi yang sudah berkeluarga. Inilah yang selanjutnya digunakan sehari-hari sebagai pengenal.
Umpama nama La Gessa Daeng Mapata, orang akan memanggilnya Daeng Mapata, begitupun dengan wanita. Sudah menjadi kelaziman pula, nama seorang ayah atau seorang ibu disangkut pautkan dengan nama anaknya, seperti Ayahnya si A atau Ayahnya si B.
Soal penamaan, sebagian orang tua tidak mau menyombongkan diri. Bila umumnya orang tua berharap agar anaknya nanti kaya raya, ia justru memberi nama kebalikan, misalnya La Recu yang berarti si miskin atau si prihatin.
Tak kurang ada juga nama yang diberikan berdasarkan keadaan orang tuanya. Misalkan orang tuanya dibuang atau diasingkan oleh penjajah, maka anaknya diberi nama Andi Selo. Nama itu menunjukkan bahwa ayahnya diselonkan, istilah ini merujuk pada zaman penjajahan banyak buangan politik yang diasingkan atau dibuang ke Ceylon (Srilanka), salah satunya adalah Syekh Yusuf.
Namun wajar dan umum bila orang tua mengimpikan anaknya melebihi orang lain. Maka ditaruhlah nama Patoppoi yang berarti berada di atas, Patompo yang berarti paling atas, sedangkan Patonangi yang artinya naik di atas yang lain.
Muhammad Daeng Patompo (Wali Kota Makassar tahun 1962-1978)
Muhammad Daeng Patompo (Wali Kota Makassar tahun 1962-1978). Foto: id.wikipedia.org
Lewat nama pula bisa tergambar asal dan turunan orang tersebut. Sebutlah Patiroi, Parussangi, dan Paturusi umumnya berasal dari daerah Sawitto, Pinrang. Sementara Makkaterru, Mappeasse, Mappatoba, dan Massakirang kebanyakan dari Bone, Soppeng, Wajo, dan lain-lain.
Di daerah paling selatan Sulawesi Selatan, orang menyandangkan nama hari dan benda-benda laut, misalnya lahir hari Senin maka namanya Sanneng Karang, dan jika lahir hari Selasa namanya Salasa Bombang dan seterusnya. Sedangkan penamaan sesuai kalender Islam seperti Bulan Rajab, di antaranya Sarajja menjadi nama Rajja, Saban menjadi nama Sabang, dan Ramadhan menjadi nama Ramalang.
Memang ada kebiasaan terutama di Bugis menyangkut nama seorang, akan tetapi lantara aksara Bugis tidak mengenal hurup mati, maka kedengarannya menjadi lucu untuk tidak mengatakan aneh. Seumpama nama Ishak, oleh teman atau saudaranya dipanggil La Sake, Ibrahim disapa Borahima atau La Bora, Abdul menjadi La Beddu, Jusuf disebut La Supu, Ismail dipanggil Semmaila dan seterusnya.
Dalam pergaulan sehari-hari, nama-nama ini terbentuk dengan sendiriya. Ada lagi satu panggilan khas yang mungkin hanya ada di daerah tersebut. Seseorang mempunyai nama yang sama, maka antara mereka saling memanggil dengan sebutan Gona.
Menurut pesan orang-orang tua, nama seseorang sebaiknya menjadi lima bagian atau suku kata, contohnya La Bacoci hanya memiliki empat suku kata yaitu, La, Ba, Co, Ci. Jadi untuk menjadi lima bagian, maka di depannya diimbuhi I menjadi I La Bacoci.
Hal senada bisa dirunut pada nama La Galigo yang Cuma terdapa empat suku kata, La, Ga, Li, dan Go. Agar mencukupi lima bagian, maka di depannya ditambahi huruf I, menjadi I La Galogo.
Rujukan: Koro, Nasaruddin. Ayam Jantan Tanah Daeng, Siri & Pesse, Dari Konflik Lokal ke Pertarungan Lintas Batas. 2006. Ajuara: Yogyakarta.

Tuliskan Komentar