Kuno Situs Sulsel

Inilah Beberapa Alasan Mengapa di Sulawesi Tidak Ditemukan Bangunan Candi

Mungkin pernah terlintas pertanyaan dibenak kita. Mengapa di Sulawesi tidak ada candi? atau, apakah ada candi di Sulawesi? Pertanyaan seperti itu wajar, sebab di Jawa, banyak bukti sejarah yang ditemukan, baik berupa arca maupun candi.

Selain Jawa, di luar Jawa juga ditemukan beberapa candi, misalnya Candi Muara Takus dan Candi Muara Jambi di Sumatra, serta Candi Agung dan Candi Laras di Kalimantan.

berikut ini beberapa hal yang menyebabkan sehingga di Sulawesi sampai saat ini tidak ditemukan bangunan candi, namun tidak menutup kemungkinan akan adanya penemuan candi di masa mendatang.

Candi Bubrah di Jepara, Jawa Tengah
Candi Bubrah di Jepara, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi yang bercorak agama Buddha karena terdapat stupa di atasnya yang merupakan ciri budaya Agama Buddha. Foto: inibaru.id

Pembuatan candi didasari oleh latar keyakinan

Dalam hal ini erat kaitannya dengan Agama Hindu dan Budha. Beberapa kerajaan di Jawa menganut Agama Hindu maupun Buddha secara resmi, sehingga kita bisa saksikan beberapa candi di Jawa, misalnya Borobudur yang merupakan tempat pemujaan umat Buddha. Begitupun di candi Prambanan, yang merupakan tempat pemujaan umat Hindu.

Baca juga: 3 Religi dan Kepercayaan Tradisional Masyarakat Sulawesi Selatan

Sedangkan di Sulawesi, baik Hindu maupun Buddha, tidak pernah dianut secara massif, sehingga bangunan keagaam berupa candi tidak dibangun. Sementara kepercayaan tradisional di Sulawesi tidak memerlukan bangunan permanen yang megah untuk sarana upacara ataupun kegiatan yang berkaitan dengan kepercayaan setempat.

Hal yang menyebabkan tidak berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Sulawesi karena letaknya kurang strategis dan bukan terletak di jalur perdagangan antara Cina dan India yang merupakan asal adari Agama Hindu dan Buddha, sehingga tidak ada kerajaan dan candi peninggalan Hindu-Buddha di sulawesi.

Persebaran candi Hindu dan Buddha di Indonesia
Persebaran candi Hindu dan Buddha di Indonesia. Foto: id.wikipedia.org

Budaya pembuatan monumen kurang dikenal di Sulawesi

Peninggalan kuno di Sulawesi yang sehubungan dengan bangunan monumen kebanyakan merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum. Salah satunya yang populer yaitu Patung Tadulako didaerah Poso Sulawesi Tengah.

Patung Tadulako diperkirakan lebih tua dari Borobudur. Patung ini tergolong menhir dalam budaya megalitik. Di Sulawesi Selatan, menhir yang tak berukir ditemukan dalam bentuk batu nisan. Sementara di Jawa, tradisi mengukir batu telah berkembang dimasa lalu hingga sekarang.

Baca juga: Bangunan dan Benda Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Indonesia

Bukan hanya pembuatan bangunan monumental kurang dikenal di Sulawesi, tetapi juga pembangunan istana kerajaan-kerajaan di Sulawesi kebanyakan menggunakan struktur bangunan yang terbuat dari kayu. Bangunan-bangunan semacam ini tidak akan mampu bertahan lama dari iklim tropis Nusantara.

Patung megalitik di Lembah Bada, Poso, Sulawesi Tengah
Patung megalitik di Lembah Bada, Poso, Sulawesi Tengah. [Hati-hati janagn salah fokus ya]. Foto: merahputih.com

Sulitnya bahan baku pembuatan candi di Sulawesi

Batu Andesit sebagai bahan baku membuat patung/candi atau megalitik banyak ditemukan di Jawa (masih ditambang di Majalengka dan Cirebon). Batu Andesit ditemukan didaerah aktivitas gunung api atau vulkanik yang tinggi. Sebab batu Andesit tergolong batuan beku, yaitu magma yang membeku dan menjadi batu. Sedang di Sulawesi, persediaan batu andesit bisa dikatakan kurang, sehingga  untuk membuat candi sangat sulit.

Tidak berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Sulawesi bukan berarti tidak ada pengaruhnya sama sekali. Agama Hindu-Buddha masih ada sedikit hubungan atau pengaruh di Sulawesi. Beberapa daerah di Sulawesi pernah dikuasai oleh Kerajaan Majapahit yang menganut Agama Hindu.

Baca juga: Animisme dan Dinamisme: Bentuk Kepercayaan Asli Masyarakat Nusantara

Bukti lain juga yang memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Buddha di Sulawesi di antaranya penemuan arca Buddha Dipangkara yang ditemukan pada tahun 1921 di Desa Sempaga, sebelah utara Kota Mamuju, pesisir Provinsi Sulawesi Barat.

Meskipun diduga arca ini bukan berasal dari kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, melainkan dibawa oleh para pedagang dari India, tetapi setidaknya telah membuktkan adanya kontak Agama Hindu-Buddha dengan budaya masyarakat Sulawesi.

Selain itu juga adanya beberapa kesamaan keparcayaan dan mitologi masyarakat Sulawesi dengan daerah yang terpengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terutama Jawa, di anataranya penggunaan istilah seperti batara, dewa/dewata, bidadari, raksasa, merupakan kata-kata dari bahasa Sanskerta yang dipengaruhi oleh mitologi Hindu dan Buddha.

Kesamaan lain juga berupa kisah tentang tokoh mitologis dengan nama yang sama, namun dengan versi yang berbeda, misalnya Batara Guru dan Dewi Sang Hiyang Sri yang dikenal di Jawa maupun Sulawesi.

Tuliskan Komentar