Kuno

Kata Dalam Bahasa Indonesia yang Diabadikan di Dalam Al-Qur’an

Pada tanggal 25 Dzulhijjah atau 20 Oktober, surah ke-76 dalam Al-Qur’an diturunkan. Surah ini dinamakan Al-Insan yang berarti manusia. Menurut sebagian mufasir, Surah ini tergolong surah Madaniyah atau turun setelah peristiwa hijrah (622), terdiri atas 31 ayat. Nama Al-Insan diambil dari kata Al-Insaan yang digunakan untuk menjelaskan proses penciptaan manusia.

Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya, yang memiliki kualitas spiritual untuk membedakannya dengan binatang. Dengan kata lain, insan tidak menunjuk pada manusia biologis, tetapi lebih terkait dengan kualitasnya. Ali Shariati menyatakan bahwa, “tidak semua manusia adalah insan, tetapi mereka mempunyai potensi (yang sama) untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi.” (Shariati, 1982: 62)

Sebagaimana namanya, surah Al-Insan banyak berisi pokok ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap dalam hidup ini, misalnya larangan durhaka kepada Allah, kewajiban manusia memenuhi janji/nazar, memberi makan orang miskin dan yatim, mengerjakan shalat lima waktu, shalat tahajud dan bersabar balam menjalankan hukum Allah.

Baca juga: 8 Kitab Kuno di Nusantara yang Sering Dijadikan Sumber Penulisan Sejarah

Bahasa Indonesia dalam Al-Qur'an
Al-Qur’an kuno

Secara linguistik Indonesia, yang menarik kita bahas pada surah Al-Insan ini adalah ayat kelima:

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

“Sungguh orang yang baik akan minum dari gelas (sebuah minuman) yang dicampur kafur.”

Kata terakhir, kafur, adalah sebuah kata serapan dari Bahasa Indonesia, tepatnya dari Bahasa Melayu-Aceh, kapur. Benar! Itu adalah kata dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu yang diserap ke dalam Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana kata dalam Bahasa Indonesia atau Melayu ini bisa diserap ke dalam Al-Qur’an?

Baca juga: I La Galigo: Menyelami Karya Sastra Terbesar dari Sulawesi

Daerah penghasil kapur terbaik di Nusantara adalah Kota Barus, masuk wilayah Sumatera Utara sekarang, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Orang menyebut kapur dari Barus atau lebih singkat lagi kapur barus.

Selain untuk campuran minuman, kapur juga dipakai orang Arab kelas atas untuk mencuci tangan setelah perjamuan makan, juga sebagai obat penenang dan campuran pemandian mayat. Atas kebutuhan itulah, para pedagang Arab rela jauh-jauh mendatangi kota Barus untuk mendapatkan kapur barus.

Bahkan, tercatat Claudius Ptolomeus seorang ahli geografi dan Gubernur kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir pada abad ke-2 Masehi telah membuat peta. Dalam peta itu, tertera di pesisir barat Sumatera yang menjadi jalan ke Tiongkok terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (yang diyakini sebagai Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur.

Baca juga: Kota Barus: Gerbang Masuknya Islam di Nusantara

Kapur barus itu juga diekspor ke Mesir untuk dipergunakan sebagai salah satu bahan pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir’aun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum masehi.

Jadi, bisa dikatakan bahwa kapur dari Nusantara telah dibawah ke Arab jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan.

Kata kafur yang diserap ke dalam Al-Qur’an tersebut juga menjadi bukti ineteraksi masyarakat nusantara dengan masyarakat Arab sejak masa silam. Kata kafur oleh sebagian linguis atau ahli bahasa disebut sebagai satu-satunya kata dalam Bahasa Melayu yang diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Tuliskan Komentar