Mondial Nasional

Inilah Foto Pertama di Dunia dan Indonesia

Foto pertama
Foto pertama di dunia.

Sekarang ini, era teknologi fotografi semakin mudah. Hanya berbekal ponsel saja, pengguna dapat menciptakan fotografi yang sederhana. Boleh dibilang seorang pengguna amatiran pun mampu menghasilkan foto layaknya bidikan fotografer profesional.

Nah, pada era foto instan dengan smartphone seperti sekarang, pernahkah terpikir bahwa sebuah foto pernah begitu sulit untuk diciptakan, sampai-sampai memakan proses selama delapan jam?

Itulah foto pertama di dunia yang diambil oleh Nicephore Niepce, salah satu pelopor fotografi, di Perancis, antara tahun 1826 hingga 1827.

Foto pertama di dunia

Foto pertama di dunia ciptaan Niepce itu berjudul “Pemandangan dari jendela di Gras,” atau dalam bahasa Perancis “Point de vue du Gras.” Ini dia:

Pemandangan dari jendela di Gras
Pemandangan dari jendela di Gras. Foto: id.wikipedia.org

Lah! Memangnya itu foto apa sih? Kok kelihatannya tidak jelas begitu ya obyek fotonya! Biar lebih jelas, mari lihat foto hasil reparasi dan pewarnaan berikut ini:

Hasil reparasi Pemandangan dari jendela di Gras
Hasil reparasi Pemandangan dari jendela di Gras. Foto: wartainfo.com

Bagaimana, sudah jelas kan?

Baca juga: Koleksi Foto Ratu Tanete We Tenriolle

Kisah di balik foto pertama di dunia

Foto pertama ini pernah hampir lenyap terlupakan setelah menghilang pada tahun 1905. Selang hampir lima dekade kemudian, pada tahun 1952, sejarawan foto, Helmut Gernsheim, menemukannya teronggok dalam sebuah kotak, dalam gudang rumah seorang keturunan dari pemilik sebelumnya.

Sesuai judulnya, sang foto memperlihatkan bagian bangunan dan lingkungan sekeliling yang tampak dari rumah milik Niepce, di desa Le Gras, Perancis. Niepce memakai pelat timah yang dilapis Bitumen of Judea (sejenis aspal yang timbul secara alami di alam). Pelat ini lantas ditaruh di dalam camera obscura, alat sederhana berupa kotak tertutup yang diberi lubang kecil di satu sisinya.

Cahaya yang masuk dari lubang itu terproyeksi (secara terbalik) pada pelat timah. Setelah menunggu selama delapan jam, bagian bitumen yang terkena cahaya mengeras, sementara sisanya tetap lunak dan bisa diluruhkan dengan memakai cairan llavender. Foto pertama di dunia pun tercipta.

Metode penciptaan foto dengan camera obscura dan bitumen tersebut muncul setelah Niepce berulang kali melakukan eksperimen secara trial and error. Dia menyebut temuannya sebagai “heliography” atau teknik “menulis dengan cahaya”.

Baca juga: Koleksi Foto Pembantaian Westerling di Barru

Niepce kemudian bekerja sama dengan pionir fotografi lainnya, Louis Daguerre, untuk mengembangkan heliography. Setelah kematian Niepce pada 1833, Daguerre meneruskan penelitian hingga akhirnya menelurkan teknik daguereotype yang memopulerkan fotografi di kalangan publik pada 1839.

Foto pertama di Indonesia

Kalau tadi adalah foto pertama di dunia, lalu foto pertama di Indonesia mengabadikan obyek apa?

Foto pertama di Indonesia merupakan foto dari reruntuhan situs Candi Borobudur yang dibuat oleh Adolf Schaefer pada tahun 1845. Ini merupakan foto paling awal di Indonesia yang pada masa itu masih bernama Hindia Belanda.

Borodubur, view of part of the first gallery before restoration, 1845
Borodubur, view of part of the first gallery before restoration, 1845. Foto: asia-pacific-photography.com

Sebenarnya itu bukanlah foto satu-satunya, ada banyak lagi foto candi Borobudur yang dibuat oleh Schaefer pada saat itu, karena proses pengambilan gambar Borobudur itu merupakan bagian dari proyek penelitian terhadap Candi Botobudur.

Foto relief Borobudur yang juga diabadikan oleh Adolf Schaefer
Foto relief Borobudur yang juga diabadikan oleh Adolf Schaefer. Foto: commons.wikimedia.org

Kisah di balik foto pertama di Indonesia

Pada tahun 1844, fotografer Jerman yang bernama Adolf Schaefer direkomendasikan oleh Ph. F. von Siebold, penasihat Kementerian Koloni Belanda, untuk mendokumentasikan benda-benda dan bangunan purbakala di pulau Jawa.

Baca juga: Litografi Reruntuhan Candi Masa Hindu-Buddha

Schaefer menerima sejumlah besar uang untuk melakukan perjalanan ke Paris demi membeli peralatan fotografi dan mengunjungi Louis Daguerre untuk belajar fotografi. Menurut Schaefer, Daguerre sangat tertarik dengan rencananya untuk memotret di daerah tropis dan mengajarinya beberapa teknik baru.

Schaefer menghabiskan uang lebih dari 4000 gulden untuk peralatan fotografi, bahan kimia, dan pelat. Pada bulan April 1845, atas arahan dan difasilitasi oleh Bataviaasch Genootschap, Schaefer diperintahkan segera berangkat ke Batavia untuk memotret situs arkeologi di Jawa.

Pada bulan September 1845, Schaefer berangkat dari Batavia ke Jawa Tengah, tempat di mana nantinya ia harus memotret reruntuhan Candi Borobudur di bawah arahan arkeolog Van den Ham.

Sesampai di Borobudur, Schaefer mendokumentasikan beberapa relief rumit yang diukir di koridor batu bangunan. Dalam sebuah memorandum, Schaefer menguraikan masalah yang dia alami dalam menangkap gambar Candi.

Baca juga: Melihat Nusantara di Masa Lalu Lewat Litografi Karya Josias Cornelis Rappard

Tidak ada ruang yang cocok untuk kamar gelap di rumah yang telah disiapkan untuk digunakannya, dan angin serta debu bisa masuk dengan bebas ke dalam rumah yang terbuat dari kayu itu. Schaefer meminta agar rumah bergaya Eropa dibangun di mana kamar gelap yang memadai dapat dibuat.

Menyiapkan kamera terbukti lebih sulit, karena koridor sempit di Borobudur membuat jarak ideal untuk pemotretan pada masa itu tidak mungkin tercapai. Lensanya terlalu panjang untuk fokus pada relief batu yang lebar di koridor sempit, dan dia tidak dapat memotret relief secara lengkap dalam satu pengambilan gambar.

Beberapa foto relief di Candi Borobudur yang diabadikan oleh Schaefer
Beberapa foto relief di Candi Borobudur yang diabadikan oleh Schaefer. Foto: asia-pacific-photography.com

Schaefer memecahkan masalah ini dengan membuat beberapa gambar untuk satu panel relief dan menggabungkannya dalam satu bingkai. Van den Ham sebagai kepala arkeolog di situs reruntuhan Borobudur merasa tidak puas dengan cara yang dilakukan Scheafer.

Dia bersikeras bahwa, untuk tujuan ilmiah, relief dasar harus difoto secara utuh. Dia merasa bahwa dengan menggabungkan beberapa foto tidak memberikan kesan yang sama dari struktur aslinya.

Baca juga: Koleksi Gambar Peperangan Belanda di Nusantara

Schaefer memperkirakan bahwa untuk memotret semua relief di Borobudur, dibutuhkan 4.000 hingga 5.000 pelat dan pengerjaan empat hingga lima tahun. Ia bersedia melakukan tugas ini, tetapi hanya dengan syarat-syarat tertentu, Ia ingin dipekerjakan sebagai pegawai negeri oleh pemerintah Hindia Belanda, atau ia menuntut pembayaran 150.000 gulden.

Ini adalah jumlah yang sangat besar untuk periode pada saat itu dan di luar kemampuan keuangan pemerintah kolonial. Schaefer menyarankan untuk menerbitkan foto buatannya demi mengumpulkan uang untuk proyek tersebut, tetapi tawarannya tidak diterima.

Pada saat itu, van den Ham telah meninggal dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda memutuskan untuk menghentikan proyek tersebut, karena tidak mungkin lagi untuk mengarahkan pekerjaan Schaefer secara akademis. Namun, foto ciptaan Schaefer adalah sumber dokumentasi paling awal untuk penelitian ilmiah Borobudur.

Tuliskan Komentar