Nasional Sulsel

Pelaut Makassar Berburu Teripang Sampai ke Australia

Teripang atau timun laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata Holothuroidea. Ia tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia. Teripang dianggap memiliki banyak khasiat dan telah menjadi komoditas mahal sejak berabad-abad silam. Dan karena hal itu pelaut Makassar yang terkenal pemberani rela mencarinya hingga ke Benua Australia.

Sekitar tahun 1803, Matthew Flinder, seorang navigator dan pembuat peta, saat memetakan benua Australia, secara tak sengaja bertemu dengan enam perahu di sekitar pantai Arnhem Land sebelah utara Australia, kapal-kapal itu ternyata berasal dari Makassar. Berkat bantuan penerjemah, Flinder berhasil menggali keterangan dari awak perahu Makassar itu.

“Pelaut Makassar dengan baik hati menunda perjalanan pulangnya agar bisa memberikan informasi tentang aktivitas pelayarannya,” tulis Denise Russel dalam buku Aboriginal-Makassan Interactions in the Eighteenth and Nineteent Centuries in Northern Australia and Contemporary Sea Right Claims.

Findler lalu mencatat pertemuan tersebut dalam jurnal hariannya yang diterbitkan dengan judul A Voyage to Terra Australis pada 1814. Jurnal itu menjadi catatan awal pertemuan orang Barat dengan pelaut Makassar yang mencari teripang hingga ke pantai utara Australia.

Baca juga: Opini: Bagaimana Masyarakat Bugis dan Makassar Mengarungi Laut?

Dalam catatannya, Findler melihat pelaut-pelaut Makassar akrab dengan penduduk setempat Australia, yaitu orang-orang Aborigin. Mereka barter barang, aktivitas inilah yang membuat beberapa arkeolog dan antropolog menduga kontak antara orang Makassar dan Aborigin telah terjalin selama beberapa abad sebelumnya. Pendapat ini disandarkan pada bukti arkeologis berupa lukisan perahu dan pelaut Makassar dalam susunan batu di wilayah Yirkalla, di daerah Arnhem Land.

Bukti lain yaitu ditemuinya banyak pohon Asam (Asam Jawa) yang tumbuh di Australia Utara, padahal tanaman ini bukan tanaman asli Australia. Pohon asam itu ditanam oleh orang Makassar ketika mereka beristirahat sambil menunggu angin untuk kembali ke Sulawesi.

Kapal atau wangkang yang dipakai oleh para pelaut Makassar di lepas panta Raffles bay dekat Semenanjung Coburg
Kapal atau wangkang yang dipakai oleh para pelaut Makassar di lepas panta Raffles bay dekat Semenanjung Coburg, dilukis oleh L. Bretton pada 1839. Foto: goodnewsfromindonesia.id

Ada pula yang berpendapat bahwa pohon asam yang ada di utara Australia tumbuh secara tidak sengaja, masyarakat Makasaar yang memasak ikan biasanya menggunakan asam sebagai salah satu bumbunya, sementara biji asamnya dibuang di sekitar, biji inilah yang tumbuh besar.

A.A Cense dan H.J. Heeren termasuk sejarawan yang meyakini pencarian teripang di pantai utara Australia telah dimulai sejak abad ke-17 atau sebelumnya. Sementara sejarawan maritim A.B. Lapian menulis dalam buku Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17, menyebutkan bahwa pada masa itu para pelaut Makassar memang telah hampir melayari seluruh perairan Asia Tenggara. Ada kemungkinan mereka juga berlayar sampai Australia dan bertemu dengan orang-orang Aborigin, jauh sebelum orang Barat menemukan benua Australia.

Baca juga: Ketika Kesultanan Gowa Memerintah Australia

Penjelajahan luas pelaut Makassar diakui Anthony Reid, ahli sejarah Asia Tenggara. Tapi pencarian teripang hanya mungkin dimulai ketika pedagang Tionghoa telah mengunjungi Makassar. Sebab, mereka merupakan pembeli utama teripang dari pantai utara Australia itu.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan pedagang-pedagang Cina pernah berkunjung ke Sulawesi Selatan sebelum abad ke-17,” tulis Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Pedagang Tionghoa baru mengunjungi Makassar pada abad ke-17 saat Makassar tumbuh sebagai pelabuhan dagang internasional.

Para pelaut Makassar berdagang teripang di Pelabuhan Essington di Semenanjung Coburg di tahun 1845
Para pelaut Makassar berdagang teripang di Pelabuhan Essington di Semenanjung Coburg di tahun 1845, dilukis oleh H.S Melville. Foto: goodnewsfromindonesia.id

Pedagang Tionghoa mempercayai khasiat teripang sebagai obat. Selain itu, mereka mengonsumsi teripang sebagai makanan yang lezat. Mereka berani membeli teripang dengan harga sangat tinggi, sementara pelaut Makassar bersedia berlayar ke negeri seberang untuk mencarinya.

Baca juga: Leluhur Bangsa Australia Adalah Para Narapidana Dari Inggris

Orang Makassar menyebut pantai utara Australia dengan nama Marege. Mereka mempunyai keahlian membaca arah. Orangtua mereka mengajarkannya secara turun-temurun. Kompas mereka adalah bintang sedangkan petanya bisa berupa intuisi. Mereka juga dibekali dengan lontarakotika tilli,” naskah-naskah dalam bahasa daerah yang membantu mereka mengenali perahu jahat atau baik.

Pekerjaan mencari teripang berlangsung selama sekira empat hingga lima bulan. Para pelaut Makassar bekerja sembari berkomunikasi dengan orang Aborigin. Ini kelak menciptakan peninggalan budaya Makassar di komunitas Aborigin hingga sekarang, terutama dalam hal beberapa kosakata.

Orang-orang Aborigin di Australia Utara dikenal menggunakan beberapa kosa kata yang mirip dengan bahasa Makassar. Beberapa kosakata bahasa Aborigin memiliki arti yang sama dengan bahasa Bugis atau Makassar, seperti rupiah (uang), jama’ah (kerja), dan balanda (orang kulit putih/putih).

Baca juga: Lukisan di Dinding Gua Sulawesi Mungkin Salah Satu Seni Tertua Dunia

Heather Sutherland, profesor dari Universitas Vrije, Amsterdam, dalam jurnal “Trepang and Wangkang: The China Trade of Eighteenth Century Makassar c 1720s-1840s,” menyajikan data pengangkutan teripang dari pelabuhan Makassar ke Amoy, sebuah daerah di Tiongkok.

Tiap 10 tahun jumlah pengangkutan itu meningkat hingga abad ke-19. Melihat peningkatan jumlah itu, Inggris yang telah menjadikan Australia sebagai koloni segera mengeluarkan pembatasan pencarian teripang bagi pelaut dari luar Australia.

Inggris memberlakukan surat izin pencarian teripang mulai 1882 dan melarangnya pada 1906. Sejak itu berakhirlah pencarian teripang pelaut Makassar di pantai utara Australia. Meski begitu, mengkonsumsi teripang masih dilakukan sampai sekarang. Harganya pun cukup mahal.

Rujukan: historia.id


Tuliskan Komentar