Kuno Sulsel

Sejarah Parepare: Dari Asal-usul Nama hingga Menjadi Kotamadya

Kota Parepare adalah sebuah Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Kota ini memiliki luas wilayah 99,33 km² dan berpenduduk sebanyak ±140.000 jiwa. Kota Parepare memiliki sejarah yang cukup panjang, mulai dari menculnya pemukiman pertama di kawasan tersebut hingga berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai.

Pada awalnya sebelum dihuni dan dibangunnya Kota Parepare, wilayah tersebut hanya terdiri dari perbukitan yang ditumbuhi semak belukar. Belum ada pemukiman dan hanya menjadi jalur perlintasan yang selalu dilewati oleh orang-orang dari wilayah Ajatapareng seperti Suppa, Sawitto, Nepo, maupun Sidenreng dan Rappang.

Wilayah perbukitan yang ditumbuhi semak belukar itu baru dijadikan pemukiman pada sekitar abad ke-XIV. Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah pemukiman tersendiri pada tepian pantai karena memiliki hobi memancing. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai kerajaan Soreang.

Baca juga: Ajatappareng: Konfederasi Antara Lima Kerajaan di Sulawesi Selatan

Pada abad ke-XV, telah dibangun kembali pemukiman baru di sebelah selatan kerajaan Soreang, pemukiman itu dikenal dengan nama kerajaan Bacukiki. Jadi masa awal kota Parepare bermula dari dua kerajaan kecil, yaitu kerajaan Soreang dan kerajaan Bacukiki. Meski demikian, kedua kerajaan itu berada dibawah penguasaan kerajaan Suppa.

Potret kawasan dekat pasar kota Parepare tahun 1930. Foto: Wereldculturen/Wikipedia.

Jika kota Parepare bermula dari kerajaan Soreang dan Bacukiki, lalu dari mana nama Parepare itu berasal?

Awalnya kata Parepare telah disebutkan dalam kitab I La Galigo yang disusun oleh Colli Pujie Arung Pancana Toa yang terdiri dari 12 jilid dan 2.851 halaman, namun diterjemahkan bukan sebagai kota, melainkan bermakna kain penghias yang digunakan dalam acara-acara atau pesta adat masyarakat Bugis, semisal pesta pernikahan.

Kata Parepare disebutkan beberapa kali di dalam kitab I La Galigo, di antaranya pada jilid 2 halaman 62 baris nomor 30 yang berbunyi, “pura makkenna linro langkana parepare” (kain penghias depan istana sudah dipasang).

Baca juga: Colliq Pujie: Sastrawan Bugis Berdarah Melayu

Nama Kota Parepare ditenggarai sebagian orang berasal dari kisah Raja Gowa. Dalam suatu kunjungan persahabatan Raja Gowa ke-XI, Tunipallangga Ulaweng (1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke kerajaan Soreang.

Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, raja Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah pada hamparan alam di wilayah ini dan spontan berucap dalam bahasa Makassar menyebut “bajiki ni pare” yang artinya “pelabuhan di kawasan ini di buat dengan baik.”

De vorstin van Parepare atau ratu Pare-pare (mungkin yang dimaksud ratu dari Dinasti Addatuang Sidenreng Rappang). Foto: Tropenmuseum.

Kerajaan Gowa kemudian menguasai kerajaan Suppa serta beberapa kerajaan lainnya yang tergabung dalam persekutuan Ajatappareng. Dengan demikian, wilayah Soreang dan Bacukiki yang awalnya merupakan bawahan Suppa juga dikuasai oleh Gowa.

Sejak saat itu mulailah dikenal secara luas wilayah Parepare yang tumbuh sebagai kota pelabuhan dan ramai dikunjungi termasuk orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa, serta beberapa bangsa Eropa seperti Belanda.

Baca juga: Asal Usul Nama serta Sejarah Kemunculan Kerajaan Sidenreng dan Rappang

Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Belanda menjadikan Kota Parepare sebagai pusat pemerintahannya di kawasan Ajatappareng.

Pada zaman Hindia Belanda, Kota Parepare dijadikan sebagai pusat pemerintahan untuk wilayah Afdeling Parepare (setingkat provinsi kesarang), yang diperintah oleh seorang Asisten Residen.

Sementara itu Afdeling Parepare terdiri dari beberapa Onderafdeling (setingkat kabupaten sekarang), diantaranya Onderafdeling Barru, Onderafdeling Sidenreng Rappang, Onderafdeling Enrekang, Onderafdeling Pinrang, dan Onderafdeling Parepare, yang semuanya masing-masing diperintah oleh seorang Controlur.

Pelabuhan Parepare tahun 1948. Foto: Wereldculturen.

Struktur pemerintahan ini tetap berjalan hingga Jepang datang mengalahkan Belanda sekitar tahun 1942. Pada zaman kemerdekaan Indonesia, Afdeling Parepare yang terdiri dari Lima wilayah Onderafdeling statusnya berubah.

Baca juga: Inilah Sejarah Asal-usul Nama Sinjai

Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembagian Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, maka empat Onderafdeling menjadi Kabupaten Tingkat II, yaitu masing-masing Kabupaten Tingkat II Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang.

Sedangkan Parepare sendiri berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare. Kemudian pada tahun 1963 istilah Kota Praja diganti menjadi Kotamadya. Selanjutnya status Kotamadya berganti menjadi kota sampai sekarang ini.

Didasarkan pada tanggal pelantikan dan pengambilan sumpah Wali Kotamadya Pertama H. Andi Mannaungi pada tanggal 17 Februari 1960, maka dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun 1970 ditetapkan hari kelahiran Kotamadya Parepare tanggal 17 Februari 1960.

Tuliskan Komentar